READING

ORGANIZING SERIES: MINIMALIST OR MAXIMALIST?

ORGANIZING SERIES: MINIMALIST OR MAXIMALIST?

Bicara soal rumah tinggal, entah itu landed house, apartemen atau kost-an sih nggak melulu tentang tempat tinggal lagi, ya… Tapi juga tentang personal style, identitas, gaya hidup dan ketertarikan. Kepribadian kita nggak hanya menentukan gaya kita dalam berpakaian, tapi juga menentukan gimana cara kita mendekor atau mengorganisir rumah. Selain itu, keputusan kita untuk hidup bersama dengan pasangan, atau saat punya anak juga memengaruhi kebutuhan dan fungsi di dalam rumah tersebut. Tapi, kenyataannya nggak semua orang menyadari atau tahu pasti tentang karakter, kepribadian dan kebutuhan dirinya sendiri.

Kadang kita suka bingung tentang apa yang sebetulnya kita mau atau butuhkan. Kadang banyaknya referensi desain rumah justru membuat kita makin bingung dan membuat beberapa orang terjebak tren, padahal belum tentu sesuai dengan kepribadiannya. Mengetahui secara detail karakteristik setiap orang yang tinggal di rumah bisa sangat membantu untuk membangun tempat tinggal yang nyaman dan teratur.

Nah seperti comic strip di atas, seringkali istilah minimalis disalah-artikan dan persepsinya kurang tepat. Secara mendasar, kepribadian seseorang terbagi menjadi tiga kategori yaitu minimalis, maksimalis dan diantaranya. Artikel ini bakal bantu ngejelasin perbedaan kategori-kategori itu, yang biasanya menentukan clutter di setiap rumah. Tentu saja nggak ada yang salah tentang clutter atau declutter dan menjadi minimalis atau maksimalis. Ini benar-benar tentang karakter kita masing-masing, kok. Contohnya, mengutip kata-kata Miss van der Rohe “Less is more”, tapi langsung dibalas sama Roberst Venturi dengan “Less is bore”.

MINIMALIST
Minimalis di sini bukan berarti selalu monokrom, hehe… Minimalis di rumah sering diartikan berupa ruangan yang polos, kosong, tidak penuh, mempunyai distraksi visual yang kecil sehingga bisa lebih fokus pada benda yang esensial saja. Tapi bukan berarti jadi nggak punya barang, lho ya. Orang yang termasuk kategori minimalis biasanya memang lebih hati-hati dalam membeli atau menerima barang untuk menghindari pola hidup yang konsumtif, obsesif dan impulsif. Rumah orang minimalis biasanya cenderung mengutamakan fungsi, kualitas, dan durabilitas dibanding kuantitas dan nilai sentimentil. Biasanya mereka mengorganisir barangnya dengan rapi sehingga lebih mudah dilihat dan dicari.

Minimalis adalah sebuah gaya hidup yang sudah ada dari dulu, salah satu contohnya Mahatma Gandhi di tahun 40-an dan kembali dipopulerkan lagi oleh Leo Babauta, Dave Bruno (Author – The 100 Thing Challenge), Fumio Sasaki (Author – Goodbye Things), Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus. Di Indonesia sendiri ada Roni Yuzirman yang sudah cukup lama mempraktekkan pola hidup minimalis.

At first glance, people might think the point of minimalism is only to get rid of material possessions: Eliminating. Jettisoning. Extracting. Detaching. Decluttering. Paring down. Letting go. But that’s a mistake. Minimalists don’t focus on having less, less, less; rather, we focus on making room for more: more time, more passion, more experiences, more growth, more contribution, more contentment. More freedom. Clearing the clutter from life’s path helps us make that room. —- the minimalist.

MAXIMALIST
Maksimalis tentu saja berkebalikan dari minimalis, tapi nggak melulu berarti berantakan. Secara ketertarikan biasanya seorang maksimalis menyukai semua warna dan motif, serta punya banyak koleksi. Secara psikologis mereka merasa ruangan yang kosong itu kurang memiliki soul dan membosankan. Dalam mendekor ruangan, seorang maksimalis bisa mempunyai tema yang berbeda di setiap ruangan dan cerita yang banyak dibalik kesetiap barangnya. Setiap sudut pada ruangannya bisa menggambarkan kepribadian dan karakter pemiliknya. Nggak lupa tentunya mereka juga punya koleksi dari perjalanan hidupnya yang bersifat sentimental.

Kuantitas, tampilan, mood dan kenyamanan jadi prioritas dibandingkan fungsi. Beda dengan minimalis yang rata-rata rumahnya kosong dan polos, maksimalis yang suka membaca bisa jadi rumahnya seperti perpustakaan. Sementara yang suka seni rupa, mungkin rumahnya seperti galeri atau yang suka jalan-jalan mungkin rumahnya seperti museum. Contoh profil seorang maksimalis mungkin bisa diwakili oleh arsitek Charles Eames dan fotografer Todd Selby.

IN BETWEEN
Biasanya orang-orang yang pola hidupnya tidak betul-betul sama persis dengan pasangannya akhirnya lebih memilih hidup diantara minimalis dan maksimalis. Misalnya, orang yang sudah punya anak atau yang mempunyai binatang peliharaan. Bisa juga yang mempunyai hubungan sentimental tinggi terhadap barang sehingga agak susah menjalani pola hidup minimalis. Pola hidup ini sepertinya yang paling mudah dan paling mungkin diterapkan kalau dibandingkan dengan dua hal yang diatas karena sangat fleksibel.

HOW CLUTTER AFFECT MOOD AND BRAIN
Lalu apa pengaruh karakter minimalis atau maksimalis terhadap cara merapikan rumah? Jadi begini, tumpukan barang atau clutter yang ditemukan di setiap rumah sih pasti bermacam-macam. Nah, toleransi setiap orang terhadap clutter ini berbeda-beda. Tentunya beda perspektif dan opini, masing-masing ada positif dan negatifnya. Banyak orang di sekitar saya yang nyaman hidup dalam ruangan yang penuh barang. Justru, mereka nggak bisa kerja karena ngerasa nggak dapat ide atau malah nggak nyaman kalau ruangannya terlalu rapi dan kosong.

Tapi yang nasibnya sama seperti saya juga ada, yang justru nggak bisa kalau ruangannya berantakan. Rasanya malah jadi nggak bisa fokus. Ternyata hal kecil yang seringkali terlewat sehari-hari seperti clutter ini benar-benar bisa berdampak, lho! Kalau buat saya sih, misalnya:

  • Steal your Focus: Pernah nggak ngerasain pagi-pagi buka laptop mau kerja tapi liat tumpukan kertas, bon, buku yang nggak pada tempatnya. Malah bisa ngabisin waktu untuk beres-beres, belum lagi kalau terdistraksi untuk melihat isi kertas atau bukunya dulu. Katanya sih clutter ini melimitasi otak kita untuk memproses informasi dengan mengkompetisikan atensi kita dan menghambat kita untuk fokus.
  • Increase Stress: Ternyata tanpa disadari clutter bisa memacu naiknya hormon kortisol yang bisa memacu stres.
  • It contributes to proscatination: Biasanya di beberapa kasus clutter dipicu karena kita terbiasa meng-entar-kan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu sampai benar-benar selesai. Ternyata pola itu bisa jadi terbiasa dan diterapkan untuk hal lain.
  • It cost time and money: Seberapa banyak barang yang hilang, tidak termakan sampai busuk, tidak terpakai dan lain-lain. Atau seberapa banyak waktu yang kita luangkan hanya untuk melihat tumpukan kertas dan buku sampai akhirnya kita kehilangan fokus.
  • It keeps you living in the present: Contoh paling nyata kalau dulu sih susah move on dan nyimpenin barang-barang mantan, haha… Kalau sekarang contohnya mungkin beberapa diantara kita pernah mengalami susahnya mendonasi atau membuang barang karena benda tersebut mempunyai nilai histori dan bersifat sentimental.

Nah, jadi kalau kamu kira-kira termasuk apa? Minimalis? Maksimalis? Atau, somewhere in between? Kategori manapun yang menggambarkan dirimu ini nggak ada yang salah maupun benar. Selama benda-benda yang kamu miliki berguna untukmu, membuatmu senang dan nggak menjadi beban. Pastinya, nggak ada keharusan untuk menjadi seseorang yang bukan kamu banget.

Untuk pengetahuan yang lebih luas lagi tentang ketiga kategori ini, kamu juga bisa lihat di Life Hack, GQ, Mode and Motif dan Becoming Minimalist. Buat kamu yang ternyata kepribadian dalam gaya hidup ini berbeda dengan pasanganmu juga jangan sampai stres ya menghadapinya, mungkin apa yang Design for Mankind dan Apartment Therapy utarakan ini bisa jadi panduan yang baik agar kalian tetap kompak! Have fun re-arranging!

Foto milik:
1. Feature image
Grafis oleh Puty Puar

2. Comic Strip
Grafis oleh Puty Puar

3. Minimalist
Ruang keluarga: theminimalists
Dapur: theminimalists
Area penyimpanan pakaian: theminimalists
Ruang kerja: Naoki Numahata
Area penyimpanan pakaian: yunomilife

4. Maximalist
Area penyimpanan buku: Moontomoon
Dapur: Moontomoon
Ruang keluarga: theselby
Ruang keluarga: Lovely Nest Yanuar + Pepy

5. In Between
Ruang keluarga: theselby
Ruang keluarga: emilyhenderson

6. How clutter affect mood and brain
Sofa: Jenny Mustard
Area penyimpanan pakaian: Jenny Mustard
Rumah Atit: Lovely Nest


Si ibu rapi yang selalu punya cara untuk menjaga rumahnya tetap terorganisir. Atit berbagi ide dan inspirasi penataan di rubrik Organizing Series, juga resep simpel dan tips Homekeeping.

RELATED POST

  1. feni

    8 January

    Thank you Atit :)

    ini aku tunggu-tunggu, kalau aku itu dasarnya “ngga mau di-entar-in” kalau urusan beres-beres rumah. dan selalu tega membunag barang yang ngga kepake hahahah ini bahan ribut, eh, diskus banget sama suami (karena berkebalikan).

    Thanks LL & Atit. Seru artikelnya :)

  2. Rasanya pas sekali, beberapa bulan menikah, mulai rencana beli rumah dan kalian semua bekerja sama membuat artikel hebat seperti ini. Terima kasih banyak. Terus menginspirasi ?

  3. Sukaaa banget artikelnyaa <3
    Thank you mba atit and LL team :)

  4. Bener setuju banget kalau karakter itu mempengaruhi gaya hidup dan preferensi kita. Di rumah, dari kami menikah saya dan suami suka dengan gaya minimalis (walaupun kami bahkan ga tau sebelumnya bahwa ini adalah gaya hidup dan punya nama), sementara mertua itu stylenya maksimalis abisss. SO, setiap kita berkunjung ke rumah mertua, entah kenapa kami sering ngerasa “eungap” alias sesak ngeliat banyak barang dalam sebuah rumah dan ngefek ke mood yang jadi gampang sensi (karena penuh barang atau krn aura mertua ya? hihi)
    Anw, thankyou buat menulis ttg minimalis vs maksimalis. Good to know : )

So, what do you think?

INSTAGRAM
KNOW US BETTER