BLOGGING SERIES PART ONE: SELF-HOSTED BLOG

By April 8, 2015 Creative Series
essentials-creativeseries-blogging-feature

Waktu merencanakan Living Loving di akhir 2012 lalu, saya dan Nike berdiskusi banyak soal visi kami untuk blog ini. Sedari awal kami memang memproyeksikan Living Loving sebagai blog “seriusan” yang kontennya berbeda dengan blog pribadi kami. Agar bisa mengatur blog sesuai keinginan kami dan bisa memanfaatkan plug-in untuk memaksimalkan blog, kami pun memilih self-hosted blog.

Terpikir untuk membuat self-hosted blog? Kami meminta tolong teman kami, Andri Permana yang membantu mengurus bagian IT di Living Loving untuk share sedikit soal self-hosted blog. Coba simak penjelasannya di bawah ini.

1. Apa kelebihan self-hosted blog dibanding free blogs?

Fitur yang disediakan self-hosted blog sudah pasti lebih variatif. Ambil contoh wordpress.com  (free) dan wordpress.org (self-hosted), banyak plugin (software/ aplikasi tambahan untuk web/ blog) dan theme (desain tampilan blog) yang bisa diaplikasikan dan di-customize kalau kita pakai versi .org.

Lalu blog versi gratis biasanya dibatasi jumlah resource yang bisa kita pakai. Hal ini akan mempengaruhi jumlah entry, jumlah foto yang bisa diupload, jumlah pengunjung blog, dsb.

Terakhir tentu saja biaya, free blog tak perlu membayar, sementara untuk self-hosted kita harus keluar biaya untuk mempersiapkan blog kita, termasuk biaya sewa tahunan dan maintenance. Perlu dicatat kalau platform gratis biasanya juga menawarkan opsi untuk memperbesar resourcenya dengan biaya tertentu yang biasanya lebih mahal dan lebih terbatas dibandingkan dengan kalau kita menggunakan self-hosted platform.

2. Berapa kisaran biaya yang diperlukan untuk membuat self-hosted blog ? Apa saja penjabarannya?

Mulai dari Rp. 500.000,- sampai tidak terbatas tergantung berapa banyak resource yang dibutuhkan, resource ini ditentukan oleh jumlah entry dan pengunjung. Domain biasanya sekitar Rp. 150.000,- kemudian hosting, dengan asumsi blog belum terlalu ramai dikunjungi dan jumlah entrynya belum terlalu banyak, hosting seharga Rp. 350.000,- per tahun sudah mencukupi.

3. Berapa besar sih kapasitas hosting yang diperlukan untuk membuat blog?

Self-hosted WordPress memakan space sebesar kurang-lebih 10 MB, ditambah theme dan konten untuk beberapa entry total jadi sekitar 30 MB. Beberapa penyedia jasa hosting menyediakan paket-paket yang bisa dipilih. Untuk awal, paket hosting dengan storage space sebesar 100 MB sudah lebih dari cukup.

essentials-creativeseries-blogging-1

Read More

You Might Also Like

INTRO TO CREATIVE SERIES: BLOGGING

By April 8, 2015 Creative Series
essentials-creativeseries-intro-4

Perkembangan industri kreatif saat ini sangatlah pesat. Banyak sekali orang yang memilih untuk menjalankan bisnis sendiri di luar pilihan untuk bekerja kantoran. Bisnisnya pun beragam mulai dari membuka usaha kuliner, clothing, sampai menjadi professional blogger. Itulah salah satu alasan kenapa saya dan Nike memutuskan membuat rubrik baru “Creative Series” di Living Loving. Kami ingin berbagi pengalaman dan tips, baik pribadi maupun dari narasumber, tentang berbagai topik yang berkaitan dengan industri kreatif ini.

The first series is about blogging. Kami melihat saat ini semakin banyak orang yang memilih untuk menseriusi blognya. Mulai dari fashion blogger, food blogger, lifestyle blogger, maupun travel blogger, banyak sekali yang mulai melirik blog bukan hanya sekedar sebagai sarana penyaluran hobi tapi juga sebagai salah satu alternatif profesi. That’s why di creative series perdana ini kami ingin membahas sedikit tentang blogging.

essentials-creativeseries-intro-1

Hal pertama dalam membuat blog tentu saja menentukan konten, karena sangat berpengaruh kepada platform apa yang dibutuhkan. Kami sendiri memilih WordPress karena blog pribadi saya dan Nike menggunakan WordPress jadi sudah terbiasa dengan cara kerjanya. Coba simak penjelasan Andri Permana, teman kami yang membantu mengurus hosting dan domain untuk Living Loving memberi sedikit masukan sebagai bahan pertimbangan:

Read More

You Might Also Like

INDUSTRIAL STYLE KITCHEN

By April 7, 2015 Decor Inspirations
inspiration_kitchen_industrial_1

Selain gaya skandinavia atau mid-century yang sempat kami bahas kemarin, desain interior dengan gaya industrial juga sedang banyak digemari. Tidak hanya pada public space seperti cafe, desain industrial juga menjadi salah satu pilihan untuk interior rumah.

Gaya industrial dikenal dengan elemen desain yang terkesan unfinished: dinding bata ekspos, kursi kayu atau besi yang tidak divernis, lantai semen, serta konstruksi langit-langit terbuka yang memperlihatkan palang kayu atau sistem perpipaan. Penggunaan material beton, bata, kayu dan material logam seperti baja atau besi menjadi ciri khas yang memberikan kesan maskulin pada gaya ini.

inspiration_kitchen_industial_3

photo cource: tessaneustadt.com

Desain industrial juga dapat diterapkan di dapur yang biasanya dihuni oleh kaum wanita ataupun pada ruang makan. Biasanya, ruang dengan desain industrial didominasi warna cokelat, putih, hitam atau abu-abu. Walaupun gaya industrial cenderung terkesan maskulin, sedikit sentuhan warna pastel bisa memberikan kesan manis pada ruangan. Misalnya pada kontainer bumbu atau warna kulkas seperti dalam foto di bawah ini.

inspiration_kitchen_industrial_2

photo source: housetohome.uk

Read More

You Might Also Like