READING

CREATIVEPRENEUR PART 4: GO BIG OR STAY SMALL

CREATIVEPRENEUR PART 4: GO BIG OR STAY SMALL

Setelah tau apa dan seperti apa konsep yang ingin dijadikan sebuah usaha kreatif, mencari vendor yang tepat, serta menentukan harga jual, hal yang juga penting untuk dipertimbangkan dari awal untuk menjadi seorang creativepreneur adalah menentukan apakah memiliki rencana untuk mengembangkan usaha tersebut (go big) atau memilih usahanya untuk tetap kecil (stay small). Yup. Choosing to stay small is also an option.

Di bahasan kali ini kami mendapat ilmu hasil sharing dengan Tarlen Handayani dan Ria Sarwono. Keduanya sama-sama seorang creativepreneur namun memiliki pilihan berbeda mengenai rencana kedepan untuk brand-nya masing-masing. Tarlen memiliki sebuah toko buku kecil atau yang biasa disebut Tobucil di Bandung, sedangkan Ria bersama rekannya Carline Darjanto memiliki bisnis label fashion lokal COTTONINK.

Bagaimana perjalanan awal mula usaha kalian hingga perkembangannya saat ini?

Tarlen

Menengok kembali perjalanan Tobucil selama 14 tahun, saya tidak pernah membayangkan Tobucil seperti saat ini. Saya hanya berusaha menjalani sebaik yang saya mampu. Setelah ditinggalkan oleh dua pendiri lainnya, saya hanya berusaha menjawab tantangan pada diri sendiri: ‘jika setelah ditinggalkan saya berhenti, saya tidak akan pernah bisa menjalani persoalan hidup yang lebih besar dari Tobucil’. Dan upaya menjawab tantangan itu  kemudian mengantarkan saya sampai waktu 14 tahun.

Di awal tahun 2000 an, ketika Tobucil baru saja berdiri, banyak orang melabeli Tobucil sebagai ‘Toko Buku Alternatif’ atau ‘Ruang Alternatif’. Tobucil saat itu hadir sebagai alternatif  dari cara memaknai sebuah gerakan literasi.

Tahun 2007, ketika pindah ke jalan Aceh (tempat ketiga), Tobucil mereposisi diri dengan menjadikan literasi sebagai bagian dari keseharian. Proses membaca diri dan lingkungan bergerak lebih jauh melalui kegiatan aktualisasi diri. Kegiatan dan pendekatan hobi menjadi pilihan. Lewat hobi seseorang lebih mudah berinisiatif,  tidak takut untuk mencoba dan gagal lalu mencoba lagi. Lewat hobi pula seseorang bisa dengan senang hati berbagi dan menularkan ilmu, semangat serta pengalamannya.

livingloving-creativepreneur-go-big-stay-small-tobucil-3

Ria

Tujuh tahun lalu kami memulai perjalanan COTTONINK dengan produk pertama, Obama t-shirt, yang kami jual melalui facebook dan blogspot. Waktu itu belum ada ready to wear local brand yang beroperasi secara online, jadi bisa dibilang kami adalah local brand pertama yang berjualan online. Setahun kemudian kami membuat website yang selalu kami update setiap tahun hingga hari ini.

livingloving-creativepreneur-go-big-stay-small-cottonink-5

Apa saja goal yang diharapkan saat awal merencanakan Tobucil/COTTONINK?

Tarlen

Sejak awal Tobucil menyatakan diri ‘mendukung gerakan literasi di tingkat lokal’. Literasi bagi Tobucil bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, namun juga kemampuan membaca diri, lingkungan dan persoalan di sekeliling kita. Pemaknaan literasi seperti ini yang menjadi semangat dari perjalanan empat belas tahun Tobucil. Itu sebabnya kegiatan Tobucil tidak melulu teks dalam bentuk buku, namun lebih luas daripada itu. Tobucil menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan, pemikiran dan penafsiran, semuanya bisa bertemu dan saling mengasah dan mematangkan. Meski pun proses mengasah dan mematangkan itu seringkali harus dimulai dari diri sendiri dan lingkaran yang paling dalam terlebih dahulu.

livingloving-creativepreneur-go-big-stay-small-tobucil-4

Ria

Tidak ada rencana berlembar lembar yang spesifik dan detail. Tapi satu yang kami ingin capai adalah menjadikan COTTONINK legacy bagi anak cucu kami dan menjadi kebanggaan Indonesia. Jika Jepang memiliki Uniqlo, Swedia punya H&M, Spanyol punya Zara, Indonesia punya COTTONINK.

                                                                  livingloving-creativepreneur-go-big-stay-small-cottonink-3

Untuk Tarlen, mengapa Tobucil memilih untuk stay small, tidak dikembangkan menjadi lebih besar atau membuka cabang?

Saya sering sekali mendapat pertanyaan, apakah suatu hari nanti Tobucil (Toko Buku Kecil) akan menjadi besar? Dan setiap itu pula saya menjawab Tobucil akan tetap menjadi kecil dan memilih untuk tetap menjadi kecil. Sebagaian yang mendengar jawaban saya berhasil dibuat terheran-heran dengan jawaban itu. Bagaimana mungkin sebuah usaha berbasis komunitas yang dibangun selama 14 tahun tidak punya cita-cita menjadi besar, bukankah kesuksesan sebuah usaha seringkali dinilai ketika usaha tersebut membesar, baik dari segi tempat, omset, aset, karyawan dan lain-lainnya yang bertambah banyak dan besar nilainya. Namun jika dijalani, memilih tetap kecil itu, bukanlah pilihan yang mudah.

livingloving-creativepreneur-go-big-stay-small-tobucil-2

Menjadikan literasi menjadi bagian dari keseharian artinya menjadikan aktualisasi diri sebagai bagian dari proses berkontribusi pada perubahan. Karena setiap perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil di tingkat individu. Itu sebabnya Tobucil tidak akan pernah menjadi Tobusar (Toko Buku Besar), karena Tobucil percaya setiap hal besar selalu berawal dari hal kecil. Tobucil memilih perannya menjadi tempat memulai hal-hal kecil itu. Di tengah definisi ‘kemajuan dan kesuksesan adalah menjadi besar’, pilihan menjadi kecil selama dua belas tahun ini justru mengajarkan Tobucil bagaimana mendefinisikan kemajuan dan kesuksesannya sendiri dengan menjaga komitmen dan konsistensi. Istiqomah dengan tujuan, pilihan dan cara.

Lalu dimanakah letak kesulitannya memilih untuk tetap menjadi kecil? saya bisa menjelaskannya dengan analogi orang yang berdiet untuk menjaga kesehatan. Dia tau dia bisa memakan apapun yang ada di hadapannya, tapi dia memilih untuk menseleksi dan membatasi porsinya. Apa yang akhirnya dipilih untuk dimakan, semata-mata demi kesehatan dan hidup yang lebih baik. Bagi Tobucil yang 14 tahun memilih untuk tetap menjadi kecil, tantangannya adalah bagaimana untuk tidak menjadi silau atas tawaran-tawaran menggiurkan. Memilih tetap kecil bukan karena anti kemajuan, karena kemajuan tidak harus selalu menjadi besar. Memilih menjadi kecil seperti hidup dan membuktikan keyakinan bahwa segala yang besar ada, ketika yang kecil hadir untuk memulainya.

 

Untuk Ria, apa saja yang dibuat saat perencanaan awal untuk mengembangkan COTTONINK?

Dulu, kami lebih wait and see, merencanakan sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kami. Sekarang juga kurang lebih masih sama. Seperti memperbanyak jumlah artikel, memperbanyak arrivals, kalau dulu 3 bulan sekali, kemudian mulai naik sebulan sekali, sebulan dua kali, dan akhirnya sekarang seminggu sekali selalu ada new arrivals. Semua itu bertahap. Dulu kami mulai dari facebook, bergeser ke blogspot, kemudian membuat webstore, sekarang dengan adanya instagram dan media sosial lain, semakin mempermudah gerak kami untuk mengembangkan COTTONINK sebagai brand. Kami mulai mengembangkan community kami melalui #youxcottonink, dan share our activity melalui #cottoninkholiday, dan menyampaikan semangat kami melalui #cottoninkteam. Kami ingin pelanggan melihat COTTONINK bukan sekedar “online sis-jual baju-selesai”, tapi kami ingin customer juga merasakan lifestyle kami.

livingloving-creativepreneur-go-big-stay-small-cottonink-6

livingloving-creativepreneur-go-big-stay-small-cottonink-1

Apa saja yang menjadi pertimbangan sampai akhirnya memutuskan untuk menambah outlet COTTONINK?

We always listen to our customer, customer is the reason for everything that we do. Banyak sekali request mereka agar COTTONINK membuka toko. Jadi kami membuka toko, ketika kami rasa saatnya sudah tepat. Selain itu kami ingin membuat customer kami merasakan experience-nya kalau ke #cottoninkstore, karena kalau di stockists kami, kami sama saja dengan banyak local brand lain, tidak ada yang membedakan, hanya letak display baju nya saja. Tapi kalau punya toko sendiri, dari warna, interior dan suasana kami bisa menghadirkan experience yang sama, sama seperti ketika customer berbelanja di webstore COTTONINK.

Terima kasih Tarlen dan Ria untuk sharingnyaJadi gimana dengan kamu? Sudah punya rencana akan seperti apa brand-mu dalam 3-5 tahun ke depan? Have you decided to go big or would you prefer to stay small?

 

Written by Diah Ayu Wulandari
Photo courtesy of Tobucil and COTTONINK


ABOUT OUR CONTRIBUTORS

Tarlen Handayani, book binder, pendiri Tobucil & Klabs dan label ‘Vitarlenology’ yang sesephotokali menulis. Karyanya bisa dilihat di www.vitarlenology.net dan kegiatan yang dikelolanya bisa dilihat di www.tobucil.net.

 

 

 

11430208_556805417791207_1526585551_n

Ria Sarwono adalah co-founder COTTONINK, brand fashion lokal yang ia bangun bersama partnernya, Carline Darjanto sejak November 2008. Di sela kesibukannya sebagai brand & marketing director COTTONINK serta managing director 247 #cottoninkmagazine. 

 

 


RELATED POST

  1. Fi

    2 September

    Aku suka suka suka sekali dengan topik ini. Go big or stay small. Tulisan ini bisa jadi salah satu pertimbangan tentang akan seperti apa usaha “toko” buku online yang sudah aku jalani setahun belakangan ini. Berawal dari obsesiku untuk mencentang semua judul buku di wishlistku, akhirnya menjadi usaha yg menyenangkan. Berburu buku dan menjualnya, menjadi serious hobby. Dan sampailah di pemikiran..what next? Go big or stay small? Hmm…artikel ini jadi ngajakin mikir kembali. Thank you so much livingloving!

  2. filicia

    6 September

    What an inspiring article! Aku selalu punya vision untuk go big untuk bisnisku nantinya. tapi setelah membaca jawaban Tarlen soal stay small, aku jadi lebih mengevaluasi lagi.
    Thank you so much Tarlen and Ria for sharing the stories behind your company with us :)

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER