READING

CREATIVEPRENEUR SERIES PART 2: RESOURCES

CREATIVEPRENEUR SERIES PART 2: RESOURCES

Saat memutuskan membuat dan menjual produk sendiri, langkah awalnya adalah menemukan bahan yang tepat. Mungkin saja kita memerlukan bahan dengan spesifikasi khusus mulai dari jenis kayu atau kain, warna cat, jenis finishing, atau mungkin mencari sumber daya yang sustainable. Hal ini tidaklah mudah dan perlu riset mendalam. Kita perlu menyediakan waktu (dan dana) khusus untuk membuat sample atau mencari tukang mana yang bisa menghasilkan produk dengan rapi.

Dian Elvira dari KEMALA Home Living melakukan riset sekitar 6 bulan. Mulai dari membuat konsep usahanya seperti apa, strategi pemasaran di awal bagaimana, dan mencari vendor material yang diperlukan. Setelah sekarang sudah jalan sekitar satu tahun, Dian merasa punya business plan seperti itu cukup membantu untuk mengarahkan fokus pengembangan dan langkah apa saja yang diperlukan to get the business going. 

 

1. Bagaimana cerita sampai akhirnya bisa menemukan vendor bahan produk yang sesuai dengan konsep KEMALA Home Living?

Produk KEMALA bisa dibilang ada dua jenis utama: fabric-based dan wood-based. Untuk produk-produk dari kain, aku memang sudah lama menyimpan kontak pengrajin-pengrajin dan penjual kain yang aku temui saat aku jalan-jalan di Jawa, Bali, Lombok, Flores, Kalimantan, dsb. Jadi aku menghubungi mereka untuk supply kain tradisional seperti batik, tenun, dan lurik.

Untuk produk yang wood-based, aku melakukan kunjungan langsung ke berbagai pengrajin kayu yang aku dapatkan infonya dari teman-teman.

creativepreneur-series-resources-3

2. Pernah ada kendala atau pengalaman kurang enak dengan vendor atau saat proses produksi?

Iya sering, apalagi di awal, haha. Pertama, masalah yang paling sering dihadapi, adalah tenggat waktu pemenuhan pesanan. Lalu mengenai kualitas dan konsistensi hasil produksi.

Karena kebanyakan vendor aku tidak tinggal di kota yang sama, menjaga komunikasi itu penting banget.  Perlu komunikasi yang terbuka, jujur, dan sama-sama niat baik.

 

3. Di KEMALA Home Living, siapa yang bertanggung jawab melakukan quality control? Apa ada semacam kesepakatan dengan vendor mengenai standar barang yang diproduksi?

Quality control ada di pihak vendor dan juga di pihak KEMALA. Untuk bahan kain biasanya tidak terlalu bermasalah, tapi untuk kayu harus lebih detil kita mau spesifikasi seperti apa. Yang penting di awal harus jelas harapan kita mengenai standar produk seperti apa, dan juga menentukan bagaimana kalau hasil produk dari vendor tidak sesuai harapan – apakah diganti/direvisi, diretur, atau dipotong dari jumlah pesanan.  Lagi-lagi, komunikasi itu nomor satu. Karena dari komunikasi yang baik dan pemenuhan pesanan sesuai deadline, kita bisa membangun kepercayaan untuk hubungan jangka panjang.

 

4. Menurut Dian, seberapa penting melakukan proses sampling untuk setiap desain baru?

Sampling desain baru (prototyping) itu penting untuk melihat apakah produknya fungsional dan bagaimana kira-kira respon pasar. Tapi yang lebih penting lagi itu proses ujicoba dengan vendor yang baru. Pada awal memulai KEMALA, untuk supply satu jenis kain, aku mencoba 3-4 vendor yang berbeda untuk memilih kualitas yang paling baik dan untuk menentukan siapa yang komunikasinya paling nyaman. Dua pertimbangan tersebut yang buat sangat penting. Belum tentu vendor yang paling murah itu yang terbaik buat hubungan bisnis jangka panjang.

creativepreneur-series-resources-1

5. Boleh berbagi tips untuk mereka yang tertarik berbisnis produk sendiri, kira-kira apa saja yang perlu dipertimbangkan saat memilih dan bekerjasama dengan sebuah vendor?

Pertama, untuk setiap jenis produk, coba trial dengan beberapa vendor dulu sebelum memilih yang paling tepat untuk kebutuhan kita dalam jangka panjang (termasuk kesesuaian dalam kualitas, visi, dan etika bekerja). Invest your time and resources to establish a good relationship and good communication with your vendors from the beginning.

Kedua, harus spesifik mengenai kualitas yang kita harapkan dari vendor, dan sebaiknya disepakati di awal mengenai deadline, terms of payment, dan ketentuan mengenai retur/revisi. Tergantung vendornya, mungkin ada yang kesepakatan sebaiknya dilakukan secara tertulis (meskipun nggak harus formal di atas materai).

Dan yang terakhir, hubungan bisnis itu nggak akan selalu berjalan mulus. There will always be hiccups along the way, even with the best people. Jadi kalau ada masalah, jangan langsung give up on the vendor. Coba dulu untuk cari solusi biar ke depannya tidak menghadapi masalah yang sama. Karena mencari vendor pengganti atau yang baru itu belum tentu mudah dan justru biasanya lebih repot!

Terimakasih, Dian sudah mau berbagi pengalaman di Living Loving :)

all photos courtesy of Dian and KEMALA Home Living

ABOUT DIAN

creativepreneur-series-resources-dianDian Elvira Rosa is a food, home decor, design, and travel enthusiast. She established KEMALA Home Living in March 2014 out of love for high-quality artisanal homewares. Having grown up in Yogyakarta where many craftsmen from all walks of life can be found, from early on she came to appreciate not only the beauty of handmade products, but also the stories behind them.


Penyuka craft yang lebih senang dapat voucher toko buku dibanding voucher baju. Ibu satu putri yang akrab dipanggil Mamir ini selalu sibuk cari inspirasi dekor atau palet warna di internet sambil menyantap segala macam penganan yang ada di studio Living Loving. Kamu bisa menyapa Mamir di akun Instagram-nya (@mamiraz) atau mengontaknya di miranti (at) livingloving (dot) net

RELATED POST

  1. filicia

    4 July

    thank you so much for this series! suka banget dan sangat menginspirasi aku banget untuk start-up sebagai creativepreneur. baca post ini jadi mengingatkan diri sendiri lagi betapa pentingnya untuk research dan bikin prototype :)

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER