READING

WORKSPACE: ONE SPACE FOR EVERYTHING

WORKSPACE: ONE SPACE FOR EVERYTHING

Saat ini umumnya luas rumah sudah semakin terbatas. Apalagi mereka yang tinggal di apartemen. Jadi, jangankan area khusus untuk home office. Kondisi ini akhirnya membuat penghuninya harus pintar-pintar memaksimalkan fungsi ruang. Nah, kalau sudah begitu biasanya nih, dari yang kami perhatikan selama ini, ruang makan jadi area yang multifungsi. Situasi ini juga terjadi di apartemen salah satu penulis favorit kami, Ninit Yunita yang menjadikan meja maka di apartemennya tempat untuk kerja.

Mungkin sebagian dari teman-teman sudah akrab banget dengan karya-karya Teh Ninit, seperti Test Pack yang sudah difilmkan. Bahkan dari jaman Teh Ninit mulai menulis blog Istri Bawel (dan suaminya dengan Suami Gila), saya termasuk salah satu silent reader-nya. Jadi senang sekali pas Teh Ninit bersedia berbagi cerita serta tips dalam memaksimalkan area ruang makan apartemennya dan bagaimana kebiasaannya dalam bekerja.

3 kata yang mendeskripsikan diri Teh Ninit.

Istri, Ibu, Aktif.

Kenapa menulis dan apa yang membuat Teh Ninit terus menulis?

Dari kecil memang sudah suka menulis dimulai dari menulis buku harian. Waktu SD mulai mengirim cerpen ke majalah dan pernah ikut lomba menulis juara harapan II. SMP mulai mengirimkan tulisan ke koran. Lalu lanjut ke blog, novel, dan skrip film. Menulis adalah sesuatu yang saya sukai. Menulis membuat saya bisa terhubung dengan orang-orang, menghadirkan kesempatan, membuat saya bahagia, dan harapan saya tentu sekecil apapun semoga memberikan manfaat.

Kegiatan apa saja yang biasanya dilakukan di meja makan (selain makan tentunya)?

Meja makan bisa dikatakan jantung dari tempat tinggal saya dan keluarga. Tinggal di apartemen dan memiliki keterbatasan ruang membuat meja makan memiliki fungsi ganda. Sebagai tempat saya bekerja, tempat anak-anak (lebih banyak) belajar (meski di kamar anak ada juga meja belajar tetapi kami menyukai melakukan kegiatan bersama), dan tempat saya membaca buku. Tempat yang paling hangat dan menyenangkan bagi kami.

Saat mendekorasi, Teh Ninit termasuk tipe yang sejak awal sudah punya room goal atau termasuk yang senang mengisi pelan-pelan dan mengalir saja?

Sejauh ini saya termasuk yang senang mengisi pelan-pelan. Menikmati proses dan transformasinya. Setelah menikah, saya jadi orang yang lebih mementingkan fungsi. Ini adalah meja makan ke tiga yang kami miliki. Saat pertama pindah ke Jakarta (dari Singapura), tujuan utama kami adalah secepatnya pindah ke apartemen karena dekat dengan kantor dan sekolah anak. Jadi yang menjadi concern kami tentunya adalah budget. Beberapa barang kami beli dari ITC karena menyesuaikan dengan budget. Lama-lama, mulai bisa ganti dengan meja yang kami sukai. Sekarang meja makan tersebut menjadi meja kerja suami. Meja makan yang ke tiga, yang sekarang kami pakai, sedikit lebih panjang sehingga lebih nyaman untuk melakukan aktivitas bersama keluarga. Kemungkinan meja ini tidak akan diganti dalam waktu yang lama.

Untuk dekorasi, saya lebih suka yang simple dan tidak terlalu girly. Mungkin karena suami dan anak-anak saya laki-laki semua. Saya lebih suka yang natural dan simpel. Dari kecil saya menyukai home decor. Ini juga bisa dilihat saya lebih banyak follow akun instagram yang berhubungan dengan dekorasi rumah.

home-workspace-ninit-yunita-living-loving-5

home-workspace-ninit-yunita-living-loving-1

Di mana Teh Ninit biasanya mendapatkan furnitur dan dekorasi untuk apartemen?

IKEA Indonesia merupakan tempat favorit saya. Saya suka desain-nya dan untuk variasi model dan harga juga beragam. Tinggal disesuaikan dengan budget saja. Bisa dibilang saya ini FBI (Fans Berat IKEA). Untuk home decoration, saya suka sekali dengan produk-produk dari RayyaHome (seagrass basketnya juara!) dan Linoluna.

Kalau yang kami intip dari instagram, di luar tanaman, dekorasi ruangan apartemen Teh Ninit dominan hitam putih dengan sedikit warna merah. Apakah ini memang paduan warna warna favorit atau Teh Ninit sengaja membuat tema yang netral?

Betul!

Tinggal di ruang terbatas seperti apartemen, warna putih menjadi pilihan saya agar pandangan tidak terblok dan lebih mengesankan ruangan tidak sempit. Betul sekali, selain warna putih, hitam, abu, warna merah adalah warna favorit saya dan suami. Saya menyukai yang netral dan natural.

Boleh diceritakan bagaimana kegiatan Teh Ninit dari awal memulai hari hingga kembali beristirahat?

Setiap hari saya mengantar anak-anak ke sekolah. Setiap hari Senin dan Kamis, setelah mengantar mereka, saya lanjut ke GBK untuk latihan lari bersama teman-teman dan ada pelatihnya. Saya mengikuti ini bukan karena saya pelari kencang, justru sebaliknya. Agar ada motivasi untuk terus aktif dalam melakukan aktivitas fisik. Bagi saya, kesehatan sangat penting. Meski lambat tetapi lari membuat saya lebih bahagia, membuat saya menjadi versi yang lebih baik daripada saya sebelumnya.

Setelah itu, saya kembali ke rumah. Membereskan dan melakukan pekerjaan rumah. Saya menyukai kenyataan bahwa saya bisa bekerja dari rumah, melakukan hal yang produktif. Hanya sesekali ke luar rumah untuk meeting. Saya memang ingin bila anak-anak pulang sekolah diantar jemputan sekolah, saya ada di rumah menyambut mereka.

Setelah sholat magrib biasanya kami mengaji bersama, makan malam, dan mengulang sedikit pelajaran anak-anak di sekolah. Sebelum tidur biasanya saya membaca buku.

 

home-workspace-ninit-yunita-living-loving-6

home-workspace-ninit-yunita-living-loving-3

Apa saja tips untuk mendekorasi dan menata sebuah ruangan dengan luas terbatas?

1. Selektif.

Setelah menikah, saya terbiasa tinggal di apartemen. Saat suami bertugas dua kali di luar Indonesia, kami tinggal di apartemen. Yang pasti, hanya barang-barang yang kami butuhkan dan yang kami sukai saja yang ada di tempat kami. Pertama karena dulu saat pindah, cukup memakan waktu kalau kami memiliki terlalu banyak barang saat packing. Jadi saya rajin menyortir barang-barang yang ada di tempat kami tinggal. Bila sudah tidak terpakai, dihibahkan atau dibuang. Untuk yang satu ini, saya cukup “tega”.

2. Organisasi

Saya penggemar box. Barang-barang yang “tidak perlu ditampilkan” bisa disimpan di sana. Ruangan tetap terlihat rapi, teratur, dan enak dipandang mata. Barang-barang pun tidak tercecer.

3. Tanaman

Ruang terbatas tidak menghalangi kita untuk memiliki tanaman di dalam ruang. Tanaman justru memberikan sesuatu yang berbeda terhadap tempat tinggal kita. Pilih tanaman yang cocok untuk di dalam ruang.

Apakah yang paling Teh Ninit sukai dari ruangan ini?

Kenyataan bahwa meja makan di tempat kami adalah tempat pusat kegiatan keluarga. Dulu bahkan sebelum kamar tamu akhirnya kami alihfungsikan menjadi tempat kerja suami, suami pun menulis di meja makan.

Tempat kami cukup simpel. Dominasi warna putih, natural, dan kini mulai ditemani dengan beberapa tanaman.

Jujur, awalnya saya tidak mementingkan untuk memelihara tanaman. Lalu satu pot kecil sirih Belanda dari rumah orangtua saya bawa ke apartemen sampai akhirnya beranak-pinak. Tanaman kesayangan saya saat ini adalah Sansevieria karena sejak ada tanaman tersebut di dalam rumah, anak saya yang memiliki asma, kini menjadi lebih baik kondisinya. Ternyata tanaman adalah “dekorasi rumah” terbaik yang membuat tempat tinggal kami menjadi lebih nyaman.

home-workspace-ninit-yunita-living-loving-collage

Dalam bekerja, apakah Teh Ninit termasuk tipe yang senang menata barang-barang dengan rapi atau justru baru bisa bekerja ketika barang-barang diletakkan seadanya?

Rapi!

Dulu sebelum menikah, saya termasuk orang yang sangat terganggu kalau ada barang yang bergeser dari tempat biasanya. Iya, saya ingat di mana saya menyimpan barang. Tapi kemudian hal ini mulai saya kurangi karena stress juga ya kalau tetap demikian apalagi setelah mempunyai anak, kondisi sudah berbeda. Namun demikian, bagi saya, rapi adalah keharusan. Tempat tinggal kita tidak harus terdiri dari barang-barang yang mahal, tapi rapi dan bersih itu harus.

Saya juga termasuk yang percaya bahwa tempat tinggal yang rapi dan terorganisir dengan baik memudahkan hidup kita. Saya pernah habis membuang beberapa barang di tempat tinggal. Setelah itu, tempat tinggal terasa “ringan” dan memberikan energi positif. Sama seperti air, sesuatu yang diam dan tidak dipakai itu menjadi tidak sehat.

Di luar pekerjaan, apakah Teh Ninit juga tetap menulis? Jika ya, apa yang biasanya ditulis?

Ya, saya masih menulis. Meski ada satu project terakhir yang belum selesai karena saya kategorikan sebagai project santai. Beberapa tahun terakhir ini, suami saya yang produktif menulis. Kalau saya menulis dengan pace yang tidak santai, khawatir waktu saya bersama anak-anak jadi berkurang. Menulis bisa kapan saja, tetapi momen dan kehadiran saya untuk mereka tidak bisa diulang.

Sebagai penulis, bolehkah Teh Ninit merekomendasikan buku favorit Teh Ninit untuk pekerja kreatif atau entrepreneur?

Ada satu buku lama yang saya baca ketika saya kuliah, 7 Habits of Highly Effective People by Stephen Covey. Salah satu dari 7 kebiasaan itu adalah “Begin with the end in mind”. Ini saya terapkan terutama dalam menulis. Saat menulis, yang penting bagi saya adalah mengetahui bagaimana endingnya. Begin with the end in mind membantu saya menulis secara konvergen. Saya merasa cocok dengan ini. Sama seperti ketika kita keluar rumah, kita sudah tahu tempat tujuan kita pergi itu ke mana. Sehingga tidak menghabiskan waktu berputar-putar di jalan karena belum jelas tujuannya. Penerapannya untuk entrepreneur, membantu kita melihat the big picture, dan mengembalikan kita kepada tujuan mengapa kita melakukan semua ini.

 

Terima kasih banyak, Teh Ninit. Lancar semua proyeknya tahun ini dan semoga suatu saat nanti bisa kolaborasi bersama. Xx

 


For all things lovely.

RELATED POST

  1. Erny Kurnia

    29 September

    Waaah teh ninit aku fans berat Test Pack-mu ? apartemennya cozy bangeet

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER