READING

NIKE’S CAPSULE WARDROBE EXPERIMENT

NIKE’S CAPSULE WARDROBE EXPERIMENT

Saya bukan tipe yang tiap minggu belanja pakaian. Bukan juga tipe yang sering impulsif beli baju atau pernak-pernik setiap mampir ke toko. Tapi, dengan kebiasaan yang kayak begitu aja saya kok merasa sudah menumpuk banyak sekali pakaian yang akhirnya jarang saya pakai.

Kalau ada yang mengikuti praktek saya menjalani metode Konmari dari Marie Kondo sejak akhir tahun lalu di mana saya mencoba untuk menyortir dan merapikan barang-barang di rumah. Nah, membuat koleksi kapsul ini jadi semacam praktek lanjutan saya dalam menerapkan Konmari. Jadi, saya pun memutuskan melakukan Capsule Wardrobe Experiment sejak bulan September lalu. Click more to find out about my first capsule wardrobe experiment!

Saya tau tentang eksperimen ini dari Mamir. Suatu hari dia mengirim tautan sebuah blog bernama Unfancy yang ditulis oleh Caroline Joy. Caroline melakukan eksperimen dengan jangka waktu tiga bulan yang ia namakan dengan Capsule Wardrobe di mana ia hanya menggunakan 37 buah pakaian dan sepatu dalam tiga bulan. So, no clothes or shoes shopping until the end of the third month after she has planned the next set of her capsule wardrobe. 

Tujuan Caroline melakukan eksperimen ini nggak lain karena ia merasa sudah saatnya berhenti menjadikan belanja impulsif. Sudah saatnya stop belanja dengan alasan emosional yang akhirnya justru merugikan diri sendiri. Kenapa merugikan diri sendiri? karena pada akhirnya, selain boros dan memenuhi rumah dengan banyak barang yang nggak dipakai, belanja tanpa pertimbangan matang juga nggak bikin lebih bahagia. Meski situasi saya mungkin nggak seekstrim Caroline, namun dengan situasi sekarang di mana kita selalu punya kemudahan dalam akses berbelanja (say hello to online shops and credit card?)..sangat mudah buat kita berbelanja tanpa mikir.

essential-capsule-wardrobe-nike-prima-

Eksperimen yang dilakukan Caroline rasanya pas sekali buat dicoba setelah sebelumnya saya menyortir habis isi lemari pakaian dan sudah memilih pakaian apa saja yang ingin saya miliki. Untungnya lagi dari jaman dulu pilihan pakaian saya memang nggak terlalu eksperimental. Warnanya juga nggak jauh dari putih, hitam, biru dan beige. Jadi rasanya nggak terlalu berat mempraktekkannya, karena saya nggak merasa terlalu perlu untuk menyusun palet warna dalam tiga bulan.

Ini beberapa set dari koleksi kapsul saya sepanjang September hingga November ini.

essential-capsule-wardrobe-nike-prima

essential-capsule-wardrobe-nike-prima-

essential-capsule-wardrobe-nike-prima

Koleksi lainnya bisa dilihat sendiri di foto-foto Instagram saya tiga bulan terakhir. Hehe. Di dalam daftar koleksi kapsul saya ada: 7 celana, 5 kaos, 8 kemeja, 6 dress, 3 outer dan 5 sepatu. Total ada 34 items! Lebih sedikit dari saran Unfancy tapi ternyata saya bisa dengan mudah memadupadankan 34 barang ini sepanjang September hingga November.

Nah, gimana caranya merancang Capsule Wardrobe ini bisa kamu lihat di ‘How to build a capsule wardrobe‘ dari Unfancy. Tapi, saya juga akan berbagi beberapa tips menyusunnya.

  1. Susun palet warnamu. Saya tau, nggak semua orang punya koleksi “membosankan” kayak saya. Hahaha. Banyak di luar sana yang punya pakaian dengan gaya dan warna yang sangat beragam. Kalau kamu salah satunya, saya menyarankan untuk menyusun palet warnanya dulu sebelum merancang pakaian dan sepatu apa saja yang akan masuk dalam koleksi kapsul kamu. Ini penting supaya kamu tau pasti kalau pakaian dan sepatu yang kamu pilih cocok dipadupadankan.
  2. Cari Inspirasi! Bingung menentukan warna atau pakaian apa yang bisa dicocokkan satu sama lain. Coba deh buka Pinterest. Semudah kamu menulis keyword “capsule wardrobe chic” atau “capsule wardrobe hijab”, kamu bisa dapat berbagai macam inspirasi untuk koleksi kapsulmu.
  3. Ini bukan alasan belanja. Boleh banget belanja baju atau sepatu/sandal untuk memastikan kamu nggak bosan dan kekurangan padanan dalam tiga bulan. But keep it minimal. Karena kalau nggak ya tujuan eksperimen ini jadi sia-sia, deh. Saat memulai Capsule Wardrobe pertama ini, saya hanya beli 1 celana bahan model pipa berwarna abu-abu dan kebetulan dapat 1 dress santai hitam dari Noki. Oya, aksesoris juga bisa jadi solusi biar nggak bosan. Misalnya kalung atau scarf dengan beberapa warna yang beda tapi masih cocok dengan koleksi kapsulmu.
  4. Minimalkan sepatu/sandal. Buat saya, sepatu kulit model oxford, brogue, loafer dan kawan-kawannya sangat versatile. Mudah dipadukan dengan celana bahan, celana jeans, rok bahkan dress sekalipun. Itu kenapa saya memasukkan dua sepatu kulit hitam saya ke dalam daftar. Oya, selain Converse yang memang sudah jadi sepatu wajib saya sejak SD, saya juga memasukkan sepatu training berwarna hitam yang lumayan mudah dipakai dengan pakaian apapun. Kuncinya adalah warna yang netral dan model yang cocok dengan banyak gaya pakaian.
  5. Nyaman dan sesuai kebutuhan. Pastikan pakaian yang dipilih adalah pakaian yang benar-benar membuat kamu merasa nyaman dan tentunya sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Pakaian formal, semi formal dan santai perlu kamu siapkan sesuai kegiatan keseharianmu selama ini.

Saat saya membahas tentang eksperimen ini di Instagram pribadi, ada beberapa teman yang merespon. Di antaranya ada juga lho yang selama ini sudah mempraktekkannya, meski dia tidak menamakannya secara khusus. Ada juga yang merasa nggak bisa melakukannya karena aktivitas sehari-harinya yang formal dan banyak bertemu orang membutuhkan lebih banyak jumlah pakaian.

So, are you in or out for this capsule experiment? Sama seperti metode Konmari, eksperimen ini juga nggak buat semua orang. Kalau kamu merasa membutuhkannya, kamu bisa segera melakukannya. Bahkan minggu ini, mumpung masih awal bulan. Jangan lupa kuatkan diri dari aneka godaan diskon dan sale besar-besaran. Hope you enjoy your experiment!


Simple, functional, modern, in love with details. Nike menghabiskan masa kecilnya di Kepulauan Riau dan Sulawesi Tenggara, membuatnya merasa berbeda sejak kembali tinggal di Jakarta dan suka menikmati tempat baru. Mulai blogging sejak tahun 2000, bahkan ketika istilah blog belum ada. Ketertarikannya akan dunia media dan kreatif sudah ada sejak masih sekolah. Sebelum menjalankan Living Loving, Nike bekerja selama 7,5 tahun di industri media, kreatif dan digital. Kamu bisa melihat dan menyapanya juga di Instagram (@nikeprima) dan nike (at) livingloving (dot) net

RELATED POST

  1. kantong ungu

    6 December

    udah lama penasaran sama capsule wardrobe ini. sebenernya sih cocok buat aku yang emang nggak doyan belanja baju kalo nggak butuh banget, tapi entah kenapa lemari kok ya penuh amat gitu. mau diturunin dari lemari tapi kok ya butuh. kan jadi bingung.
    o iya, ada saran nggak sih untuk bikin pilihan wardrobe untuk yang kerja kantoran gitu. secara paling nggak buat senin-jumat udah butuh minimal 4 kemeja putih dan 2 batik plus 4 bawahan. belum lagi kalo ada dinas yang pengennya pake selain putih. diluar itu pasti butuh baju buat main atau acara formal macem kondangan. trus jadi pesimis aja gitu bisa cuma 37 baju+sepatu

  2. alsheila vannya

    8 December

    Hai kak Niken,
    thank a lot untuk info ini. semenjak baca blog alodita yang downsizing clothes. dan dari blog Living Loving aku makin pede dan mencoba tidak tergoda untuk belanja yang impulsif parah.
    dan ternyata setelah berkurang baju ku, tiap hari aku gak stress mikir baju apa ya hari ini. dan ternyata tergantung kita ya sendiri untuk mix and match dengan outfit yg sama tp different looks

    love ya,,,

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER