READING

NIKE’S CAPSULE WARDROBE: PLAY WITH ACCESSORI...

NIKE’S CAPSULE WARDROBE: PLAY WITH ACCESSORIES

Sudah beberapa bulan ini saya menjalankan eksperimen Capsule Wardrobe di mana saya hanya menggunakan maksimal 34 items pakaian dan sepatu dalam jangka waktu 3 bulan. Saat ini sudah memasuki bulan keenam, jadi artinya saya sudah boleh membuat koleksi kedua dengan memasukkan beberapa items baru. Kayak gimana detil mengenai Capsule Wardrobe ini? Kamu bisa lihat blogpost Capsule Wardrobe Experiment atau langsung mampir ke blog Unfancy yang menginspirasi saya melakukan ini.

Nah, kali ini saya mau menceritakan gimana caranya supaya saya nggak merasa bosan dengan koleksi yang itu-itu saja.

Jujur, akhirnya saya nggak memasang aturan kaku saat menjalankan eksperimen. Saya nggak benar-benar mematok waktu kapan saya harus belanja baju atau sepatu, karena akhirnya saya kadang malah nggak mendapatkan item yang saya incar. Sudah nunggu lama, menahan diri, eh pas waktunya bisa belanja malah sudah nggak ada di toko lagi kan lumayan bikin sedih. Haha. Jadi saya menerapkan belanja secukupnya secara sadar saja.

Untuk bulan Maret-Mei nanti saya menyiapkan 6 dress, 6 kemeja, 4 atasan, 5 celana, 5 kaos dan 5 sepatu. Tentunya hampir semuanya koleksi lama, ya. Saya memasukkan 2 dress baru yang kebetulan dibuat dengan cinta oleh Kitty Manu dan mamanya, 1 celana abu-abu dan 1 kaos polos abu-abu. Saya juga memasukkan koleksi lama yang sempat nggak dipakai, yaitu 1 kemeja tanpa lengan warna biru muda dan 1 celana pipa abu-abu. Jadi, membuat koleksi baru bukan berarti harus menggunakan item yang baru juga. Selama kualitas barangnya masih baik, dan masih muat di badan ya kenapa nggak.

Sebelumnya saya nggak terlalu memikirkan aksesoris. Soalnya saya memang bukan tipe orang yang suka beli aksesoris. Selain malas memikirkan mau taruh di mana, saya juga sering mikir kalau aksesoris suka menghambat aktivitas. Jadi ribet gitu. Tapi ya akhirnya merasa perlu punya beberapa aksesoris juga begitu dihadapi dengan acara yang agak formal atau spesial. Ini juga buat menjawab pertanyaan teman-teman tentang gimana caranya supaya nggak bosan dengan koleksi pakaian dan sepatu yang dibatasi. Apalagi kalau koleksi pakaiannya kayak saya yang rata-rata polos dan berwarna netral.

Urusan memilih aksesoris ini memang susah-susah gampang. Saya suka aksesoris yang simpel, tapi juga cukup bisa “mengangkat” tampilan supaya sedikit berbeda. Itu kenapa saya senang sekali mengumpulkan scarf, baik yang kecil maupun besar. Saya juga berusaha nggak memilih warna scarf yang itu-itu lagi (biru…atau biru), jadi sekarang koleksi scarf saya sudah agak berwarna. Cara mengenakannya juga sudah saya bagi di blogpost ‘Scarves in Style: How to Wear It‘. Jadi, hampir setiap hari saya selalu sedia 1 scarf. Saya pakai maupun tidak.

Selain scarf, sesekali saya menambah koleksi kalung, cincing dan anting juga. Nggak banyak kok, totalnya nggak sampai 10 buah. Untuk yang handmade, brands yang biasa saya pakai itu Kar Jewellery, Ayu Melati Jewelry dan Jewelrocks (untuk gelang). Kalau yang produk mass ya paling gampang ke H&M atau Stradivarius. Banyak aksesorisnya yang dijual dengan harga di bawah Rp100.000, bahkan di bawah Rp70.000. Pinter-pinter saja pilih yang modelnya simpel, soalnya banyak juga yang modelnya “ajaib”.

Selain cincin kawin dan bracelet Jewelrocks yang sudah usang (tapi sayang) karena nggak pernah lepas dari tangan saya dua tahun terakhir ini, saya nggak selalu memakai aksesoris. Biasanya kalung atau anting saya pakai saat acara khusus atau meeting yang agak formal saja. Tapi ya kalau memang sedang mood pakai aksesoris, ya saya nggak perlu nunggu acara khusus juga. Tinggal pakai saja, selesai.

Oya, saya juga memisahkan antara aksesoris yang dipakai untuk acara formal dan kasual. Biasanya yang formal itu ukurannya lebih besar jadi lebih terlihat. Kalau kasual ya tentunya yang lebih kecil dan praktis sehingga nggak membatasi gerak saat beraktivitas. Pokoknya nggak bikin saya repot kalau misalnya saya harus naik komuter atau naik motor. Hahaha.

Aksesoris juga memungkinkan kita mengeksplorasi gaya yang kita inginkan, dan tampilan jadi lebih punya cirikhas. Makanya saya suka tiga brands handmade lokal yang sudah saya sebutkan tadi, karena gayanya khas dan bisa memberi “rasa” pada tampilan kita. Buat saya, gaya yang simpel bisa jadi datar sekali kalau nggak ditambah sedikit detail. Nah, salah satu cara paling mudah untuk menambah detail ini ya dengan aksesoris. Misalnya seperti tampilan kasual denga kaos dan celana yang saya pakai ini, saya sengaja menambah kalung yang nggak terlalu mencolok atau syal katun  The Babybirds  (it’s super comfy!) seperti pada bagian atas blogpost tapi buat saya lumayan “mengangkat” tampilan.

Kalau kamu apa sih aksesoris favorit kamu dan kenapa? Ada rekomendasi brand aksesoris lokal dengan kualitas ok?

 

 

 


Simple, functional, modern, in love with details. Nike menghabiskan masa kecilnya di Kepulauan Riau dan Sulawesi Tenggara, membuatnya merasa berbeda sejak kembali tinggal di Jakarta dan suka menikmati tempat baru. Mulai blogging sejak tahun 2000, bahkan ketika istilah blog belum ada. Ketertarikannya akan dunia media dan kreatif sudah ada sejak masih sekolah. Sebelum menjalankan Living Loving, Nike bekerja selama 7,5 tahun di industri media, kreatif dan digital. Kamu bisa melihat dan menyapanya juga di Instagram (@nikeprima) dan nike (at) livingloving (dot) net

RELATED POST

  1. Ayu Dewi

    1 March

    Favorit yang murah-murah itu aksesoris diskon di Forever 21. Bisa kalap dan lumayan buat dipakai daily.

    Lokal so pasti Massicot dan Environmental Jewelry :D

  2. titiw

    1 March

    Aku anak gelang banget! Tapi gelang yang biji2an gitu. Ahahaha, sama yang sekarang lagi aku suka pake gelang yang dari kulit asli itu loh, yang warnanya ada coklat ada item. :D

  3. Shafira Indika

    11 May

    kalungnya lucubgt kaak beli dmn kalo boleh tau? hehehe

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER