ONE DAY IN: MALMO

Berbagi pengalamannya selama di Malmö, Tania Ilyas menunjukkan bahwa Malmö merupakan kota yang aman dan nyaman untuk ditinggali. Meski merupakan kota dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Swedia, angka kriminalitasnya sangat rendah. Suasana kotanya pun selalu ramai, jadi nggak pernah was-was kalau harus jalan kaki sendirian di malam hari. Dengan berbagai nilai tambahan lainnya, beberapa kata kunci yang dipertegas Tania akan Malmö diantaranya bersih, teratur, child-friendly, eco-friendly, dan beragam!

Ceritakan dong tentang tempat tinggal dan keseharianmu sekarang…

Hai, aku sekarang tinggal di Malmö, Swedia (Malmö dibaca Malme, dengan ‘e’ seperti di kata ‘kertas’).  Malmö merupakan kota terbesar ketiga yang terletak di bagian selatan Swedia. Sehingga lebih dekat ke Ibu kota Denmark, Kopenhagen, daripada ke Ibu kota Swedia, Stockholm. Jadi seringnya kalau orang pergi ke Malmö pasti lewat Kopenhagen. Aku sudah tinggal di kota ini selama 4 bulan bersama suami yang ambil master di sini, ditemani putri kami yang berusia 1,5 tahun. Sehari-hari aku ngurusin rumah tangga mulai dari masak, laundry, groceries shopping sampai beberes rumah… Di sela-sela kesibukan urusan domestik, aku nulis di blog tentang keseharianku di sini, beberapa resep masakan, review dan pengalaman traveling serta opiniku tentang motherhood. Di waktu senggang aku suka baking dan weaving.

Apa sih 5 hal yang kamu sukai dari tempat tinggalmu dan lingkungan sekitarnya?

Malmö itu bersih, teratur, child-friendly, eco-friendly dan beragam! Penduduk kota Malmö sangat peduli dengan kebersihan lingkungan, apalagi untuk fasilitas umum yang kami pakai bersama. Kita bisa lihat tempat sampah ada di mana-mana dan tentunya sudah terbagi ke sampah plastik, kertas, food waste dan botol kaca. Bahkan saat aku pergi ke kota lain di wilayah Skåne, aku melihat kebersihan kota lain masih kalah dibandingkan di Malmö. Kualitas udaranya juga baik, terbukti anakku semenjak pindah kesini jarang sakit flu dan batuk seperti di Indonesia. Paling hanya common cold yang sembuh sendiri selama 3 hari, tanpa minum obat atau antibiotik.

Kesan teratur, karena di sini penduduknya sangat tertib. Jarang banget aku menjumpai orang desak-desakan rebutan naik bis. Saat kita menyeberang jalan pun jamak kita lihat orang tetap menunggu sampai lampu hijau pejalan kaki menyala, padahal traffic sudah berhenti. Pesepeda sangat dimanjakan di sini, pejalan kaki yang menyeberang di jalur sepeda akan berhenti dan menunggu para penggowes melintas. Di setiap penyeberangan tanpa lampu lalu lintas, pengendara mobil dan motor wajib berhenti untuk memberi jalan bagi para pesepeda dan pejalan kaki. Kebiasaan teratur ini sudah menjadi budaya yang diketahui dan dipahami oleh semua orang. Antrian saat membayar di kasir atau membeli sesuatu di stall juga sangat tertib.

Child-friendly menjadi salah satu alasan kenapa aku suka banget tinggal disini. Kendaraan umum seperti bis dan kereta (seperti di banyak daerah Scandinavia lain) sangat akomodatif untuk penumpang yang membawa stroller/push chair. Setiap bis dalam kota Malmö bisa mengangkut sampai maksimal 2-3 stroller, tergantung jenis armadanya. Ada sabuk pengaman juga untuk mengikat stroller biar aman. Kedua, di sini banyak sekali taman dan fasilitas publik yang ramah anak. Tamannya bersih dan tersedia taman bermain dilengkapi dengan ayunan, perosotan dan juga tempat bermain pasir.

Kalau bingung mau ngapain sama anak, kita bisa bawa ke Stadsbiblioteket atau perpustakaan kota. Ada ruangan khusus untuk anak yang dilengkapi buku-buku cerita untuk bayi/balita dari mulai bahasa Svenska (Swedish), English, Arabic, sampai French. Di Stadsbiblioteket kita juga bisa berkreasi membuat berbagai prakarya karena disediakan kertas, gunting, pensil warna, lem dan bahan prakarya lainnya! Kita juga bisa membawa makanan dari rumah karena disediakan microwave untuk menghangatkan makanan. Selain itu juga tersedia gelas plastik dan sink untuk cuci-cuci.

Eco-friendly karena di kota ini isu sustainability sudah jadi bagian hidup keseharian warga Swedia. Mungkin di beberapa negara lain di Eropa juga punya concern yang sama dan menurut aku ini sangat bagus. Saat kita belanja ke supermarket, kita disarankan untuk bawa tas sendiri. Kalau nggak bawa, kita bisa beli kantong plastik dan harganya berkisar dari 2,5 SEK (Swedish Krona) atau sekitar Rp3.750,-! Bandingkan sama di Indonesia yang hanya kena Rp200,- per plastik. Disini juga semuanya serba self-service, dimana kita simpan belanjaan ke tray dan masukin ke plastik sendiri. Kasir hanya scan barang dan menerima pembayaran, haha… Maklum karena di sini lebih egalitarian, jadi mental ingin dilayani sudah berganti menjadi mandiri. Beda banget sama di Indonesia dimana pelanggan itu raja.

Bukti lain akan kepekaan mereka soal sustainability yaitu adanya budaya jual beli barang bekas atau loppis. Saat musim panas, setiap hari Minggu ada pasar kaget barang bekas di Drottningtorget. Kalau mau yang permanen, di dekat pasar Möllevång atau di Loppis Lounge Djäknegatan. Barang-barang bekasnya masih bagus dan murah! Untuk transportasi, selain transportasi umum yang teratur, on time dan accessible, orang Swedia banyak yang pilih bersepeda ketimbang bawa mobil. Selain fasilitas umum yang mendukung pesepeda seperti rute, tempat parkir, ada juga sepeda milik pemerintah yang bisa disewa secara harian untuk berkeliling Malmö.

Beragam karena Malmö menjadi kota yang sangat diverse dalam bidang budaya, agama, dan bahasa. Bayangkan ada kurang lebih 174 negara yang terwakili oleh penduduk Malmö, baik yang permanen maupun yang sementara seperti kami keluarga mahasiswa. Kami sering menjumpai keluarga Timur Tengah, Asia dan Afrika di sini. Komunitas dari masing-masing negara juga solid dan banyak. Restoran India, Thailand, Vietnam dan Tiongkok tersebar banyak apalagi di daerah Möllevång yang menjadi pusat perpaduan budaya dan etnis. Bahkan Asian Trade di daerah yang sama menjadi toko kebutuhan sehari-hari yang lengkap berjualan tempe, tahu dan bahan-bahan lain yang nggak ditemui di supermarket umum.

Kalau kegiatan yang paling kamu sukai atau tempat yang sering kamu kunjungi di waktu luang atau di akhir pekan apa saja?

Sehari-hari saat suamiku kuliah, aku dan anakku pergi ke Öppna Förskola atau Open School. Sekolah ini adalah fasilitas pemerintah untuk anak di bawah 6 tahun, nggak dipungut biaya dan tanpa harus registrasi. Di sekolah ini disediakan banyak ruangan yang berisi mainan edukatif dan tempat berprakarya (lagi) kurang lebih sama seperti di Stadsbiblioteket. Setiap jam-jam tertentu semua murid berkumpul di common room kemudian guru mulai bermain gitar dan murid serta orang-tuanya ikut bernyanyi dan menari. Ada public school juga di mana anak bisa ditinggal dan tidak harus ditemani orang-tuanya seperti di Öppna Förskola. Namun karena antrian pendaftarannya bisa sampai 3 bulan, akhirnya kami urung mendaftar.

Di akhir pekan, kami sekeluarga suka bepergian menjelajah kota Malmö. Karena kota ini beragam dan isu egaliter sangat dikedepankan, maka acara-acara umum untuk berbagai kalangan usia juga banyak. Contohnya saat musim panas ada mid summer party dimana kita piknik, menari, dan bernyanyi bersama. Baru beberapa waktu lalu juga ada Malmöfestivalen selama seminggu lebih di Gustav Adolfs Torg, yang sangat meriah diisi oleh stall makanan, penjual barang-barang dekoratif, perhiasan, dan lain-lain. Keluarga kami termasuk yang suka pergi ke museum dan di Malmö sendiri ada Malmö konstmuseum di Malmohus Castle dan Moderna Museet yang eksibisinya berganti-ganti dalam rentang waktu tertentu. Biasanya sih kami piknik di taman bawa bekal sendiri biar hemat, atau main ke pantai. Ada beberapa spot pantai yang saya suka yaitu di Kockum Fritid atau Ribersborg/Ribban.

Apa makanan khas Swedia yang paling kamu sukai dan harus kami coba kalau berkunjung kesana?

Di Swedia ada tradisi fika atau minum kopi sambil nyemil roti khas pendamping kopi atau fikabröd. Kalau ke Malmö, banyak kafe kecil yang menyediakan paket fika biasanya saat jam brunch atau sore gitu, dan kanelbullar atau cinnamons buns-nya jadi a must try. Kalau makanan khas Swedia seperti Swedish meatball biasanya disajikan dengan kacang polong, gravy sauce atau lingonberry jam. Lingonberry ini buah kecil serupa stroberi, biasanya dimasak jadi selai dan jadi pendamping banyak hidangan. Satu lagi yang enak, segar dan sehat adalah Toast Skagen. Kurang lebih seperti salad udang yang dimakan bersama roti bakar, dengan saus mayones, dill dan lemon.

Apa cara kamu mengobati rasa kangenmu dengan kampung halamanmu sendiri?

Yang paling bikin kangen adalah keluarga, suasana kekeluargaan, dan masakan rumahnya. Biasanya aku facetime-an sama keluarga di Solo, and thanks to aplikasi seperti whatsapp sekarang bertukar info kan gampang sekali. Kendalanya mungkin di nyesuaiin jam, karena kita beda 5 jam maka biasanya aku hubungi orang-tuaku di jam istirahat sekitar jam 7 malam WIB, atau jam 2 siang waktu Malmö. Untuk mengobati kangen suasana kekeluargaan biasanya aku kumpul sama keluarga dari Indonesia lain di Malmö, cukup banyak lho! Ada yang pelajar, keluarganya yang menemani, atau yang memang sudah menetap karena menikah dengan warga lokal. Biasanya sih ibu-ibu seniornya suka bikin acara dan kami diundang. Saat kumpul itu masakan khas Nusantara seperti siomay, bakso, nasi kuning, dan sambal jadi hidangannya. Itu juga bisa sedikit mengobati kerinduan akan Indonesia.

Kalau mau menikmati pemandangan alam, menurutmu spot yang terbaik ada di mana?

Jelas pantai! Duduk-duduk aja di pinggir pantai atau marina di Kockum Fritid sambil makan gelato. Melihat jauh ke pantai kita bisa lihat Oresundbridge atau Oresundbron yaitu jembatan yang menghubungkan Swedia dengan Denmark. Selain itu aku juga suka ke Kallbadhuset dan pantai Ribersborg.

Restoran, kedai kopi atau tempat bersantai yang kamu rekomendasikan dimana saja?

Restoran Salt & Brygga di Vastra Hamnen, mereka punya signature dish yaitu shrimp sandwich. Kalau pengen steak bisa ke Mando Steakhouse. Untuk kedai kopi dan tempat bersantai di kafe manapun sekitar Lilla Torg atau Möllevångstorget, duduk di luar sambil menikmati sinar matahari. Kalau dingin mereka sediakan heater dan selimut, kok!

Menurutmu, fasilitas atau tempat-tempat publik di Swedia itu baby/kid-friendly nggak?

Banget! Banyak banget acara yang dikhususkan untuk barn (balita dan anak-anak). Ada barnloppis, atau jual beli barang bekas khusus peralatan dan mainan bayi. Saat Malmöfestivalen, di depan Biblioteket juga disulap jadi taman bermain dan olahraga. Anak-anak bisa bebas main dan gerak sesuka hati, dan pastinya gratis. Kalau kita pergi ke restoran dan kebetulan bawa kereta bayi pun pasti dilayani dengan baik untuk kenyamanan orang-tua dan anak. Kemudian yang aku sangat suka di sini, people tend to treat children like their own. Sering banget mereka senyumin, menyapa anak kita, dan juga kasih prioritas ke orangtua yang bawa anak.

Awal pindah kesini aku sering heran saat lihat bapak-bapak mendorong kereta bayi tanpa ditemani istrinya dan mengasuh anak sendiri. Ternyata disini itu termasuk hal yang umum! Parental leave atau cuti kelahiran di Swedia termasuk yang jangka waktunya terlama di dunia, yaitu 480 hari in total, bisa digunakan sampai anak berusia 8 tahun. Hebatnya lagi selama 480 hari itu, 90 hari mereka masih digaji full dan sisanya sekitar 80% dari gaji per bulan! And it applies for both parents, mom and dad, for almost 240 days for each parent. Fasilitas kesehatan seperti vaksin juga gratis selama punya personummer atau nomer kependudukan.

Di mana saja tempat-tempat yang kamu rekomendasikan untuk membawa anak jalan-jalan?

Any park in Malmö is child friendly. Jadi tinggal bawa picnic mat dan camilan, terus duduk-duduk aja sambil lihat mereka lari-lari. Tempatnya berkualitas dan tentunya murah, hehe… Tapi satu taman yang paling seru menurutku di Folkets Park. Disana banyak playground dengan wahana permainan yang variatif, terrarium, museum reptil dan miniature golf course buat anak-anak. Pilldamsparken yang lebih dekat dari rumah kami di Davidshalls juga bagus, termasuk taman yang luas di Malmö dan jadi spot bersantai keluarga dari mulai main sampai BBQ-an.

Kalau ada teman yang berkunjung, suka kamu bawa jalan-jalan kemana saja dan kenapa?

Kurang lebih sebulan yang lalu teman saya dari Belanda datang berkunjung, lalu saya ajak ke Lilla Torg dan kafe di Möllevång. Jalan-jalan mengitari Turning Torso juga menarik, karena bangunan ini iconic di Malmö. Fasilitas publik di sekitarnya juga banyak dan pemandangannya indah. Turning Torso ini adalah gedung 54 lantai setinggi 190 meter dan berputar 190 derajat dari bawah hingga puncak yang didesain oleh arsitek Spanyol, Santiago Calatrava. Pertama kali lihat aku juga dibuat kagum sama bentuknya.

Kalau mau beli oleh-oleh barang dekoratif dengan bergaya skandinavia, toko perlengkapan rumah disini juga banyak dan termasuk murah jika dibandingkan dengan di Indonesia. Swedish people is really proud of their own products and brands. Name it like IKEA, H&M, Volvo, dan kereta bayi Emmaljunga… Kualitasnya juga bagus dan nggak kalah sama kualitas brand Eropa lain.

Dimana saja destinasi favorit kamu untuk berlibur di Malmö?

Depends on what kind of holiday you want to have. Kalau suka olahraga, aku merekomendasikan Kockum Fritid dan mampir ke skateboarding park yaitu Stapelbäddsparken, yang terbesar dan dengan fasiitas terbaik di Eropa. Kalau mau museum hopping, sudah pasti ke Malmöhus Castle dan Moderna Museet, atau ke Form Design Center di Lilla Torg. Kalau mau leisure holiday harus banget cobain fika di Lilla Torg atau Möllevångstorget, atau sunbathing (if there’s any sunshine) di Kallbadhuset/ Västra Hamnen. Ke district culture Malmö Live untuk nonton konser atau mall Emporia kalau mau belanja. FYI, Mall Emporia ini adalah salah satu mall terbesar di Scandinavia dan luasnya hanya 93,000 m2, atau cuma kurang dari sepertujuhnya Grand Indonesia. Itu membuktikan gimana ngemall nggak jadi kebutuhan untuk hiburan keluarga di sini.

Menurutmu kapan sih saat yang tepat untuk berlibur ke Malmö?

Saya mengalami sendiri musim panas di Swedia, and the ‘real’ heat only last for about a week. Sisanya walaupun ada hangat matahari tapi anginnya masih kencang dan dingin. Jangan dibayangin panas kaya di Indonesia, haha… So I think late May ’till early July is the best time to visit Malmö.

Terima kasih Tania Ilyas, sudah bawa kami keliling kota Malmö! Menyenangkan banget dengar kebiasaan-kebiasaan baik yang diterapkan oleh warga Swedia dalam kesehariannya. Semoga bisa menular ke kami ya!

 


RELATED POST

So, what do you think?

INSTAGRAM
KNOW US BETTER