ONE DAY IN MELBOURNE

Berprofesi sebagai jurnalis majalah Indonesia yang berbasis di kota Melbourne ini memberikan Adeste Adipriyanti kesempatan untuk menjelajahi dan mempelajari keunikan kotanya. Mulai dari perbedaan kultur yang dirasakan dan juga berbagai macam konser yang telah ia nikmati, pengalamannya di kota ini menjadi sangat berkesan. Menjadi keuntungan tersendiri karena belum tentu dapat dilalui saat pulang ke kampung halamannya sendiri. Adeste berbagi tentang kesehariannya yang membuatnya sangat jatuh cinta dengan kota yang terbilang kota ternyaman di dunia…

Ceritakan dong tentang tempat tinggal dan keseharianmu di Melbourne…
Sudah satu tahun ini saya tinggal di Melbourne, kota yang mendapat predikat the most liveable city in the world selama tujuh tahun berturut-turut. Saya mendapatkan visa Working Holiday yang memungkinkan saya untuk tinggal selama satu tahun sambil bekerja di Australia. Selama tinggal di Melbourne, saya sempat mencicipi bekerja sebagai kitchen hand hingga waitress di restoran Jepang, toko roti, dan juga food truck. Pengalaman yang benar-benar berbeda dan memperkaya pengalaman hidup saya. Selain itu, saya tetap menulis dan menjadi jurnalis untuk sebuah majalah Indonesia yang berbasis di Melbourne.

Apa hal yang paling menantang saat kamu pertama kali menginjakkan kaki di Australia?
Pertama, cuaca. Melbourne ini punya julukan “4 seasons in one day” alias kota dengan empat musim dalam satu hari. Paginya cuaca cerah, tiba-tiba hujan berangin, sorenya panas menyengat, dan malam harinya bisa kembali dingin. Awalnya saya selalu salah memprediksi cuaca Melbourne, sudah pakai baju hangat berlapis-lapis, dua jam kemudian berubah panas. Sekarang saya menyiasatinya dengan selalu membekali diri dengan jas hujan (bahkan payung sering keok diterjang angin Melbourne) di dalam tas dan selalu membuka perkiraan cuaca di smartphone sebelum beraktivitas.

Kedua, logat dan bahasa slang orang Aussie. Bulan-bulan pertama saya tinggal di Melbourne saya kesulitan menangkap logat orang Aussie yang kental dan berbeda dengan orang Inggris dan Amerika. Belum lagi kesukaan mereka menyingkat kata. Misalnya saja “breakfast” jadi “brekkie”,“thanks” jadi “ta”,“McDonalds” jadi “maccas”,atau “afternoon” jadi “arvo”.

Apa sih hal-hal yang kamu sukai dari tempat tinggalmu dan lingkungan sekitarnya?
Saya tinggal bersama sepupu saya di area city atau tengah kota. Menyenangkannya tinggal di pusat kota, saya bisa mengakses tram secara gratis (selama masuk dalam area free tram zone). Kalaupun tidak mengakses transportasi publik, saya suka sengaja berjalan kaki keliling kota. Memang terbukti, tidak perlu bergabung ke gym, saya merasa tubuh saya lebih fit selama tinggal di Melbourne. Setiap hari paling tidak saya bisa berjalan kaki sekitar lima kilometer. Kota ini relatif bebas macet, waktu tidak terbuang percuma gara-gara perkara macet. Saya bisa memprediksi kapan harus berangkat dan jam berapa harus sampai. Transportasi publik pun tepat waktu dan terintegrasi dengan baik.

Selain itu, Melbourne punya taman-taman kota yang nyaman, bersih dan aman. Hidup terasa lebih seimbang, karena meski capek bekerja, saya masih bisa menikmati duduk-duduk atau berolahraga di taman.

Biaya hidup di kota ini memang tinggi, tapi saya merasa malah lebih bisa berhemat saat tinggal di Melbourne. Di sini banyak hal yang bisa dinikmati tanpa perlu mengeluarkan uang. Di Melbourne, saya makin sadar bahagia itu tidak harus bayar. Bahagia bisa sesederhana membaca buku atau melamun di taman kota. Ada banyak ekshibisi gratis di museum-museum seperti National Gallery of Victoria, yang juga merupakan museum favorit saya di Melbourne. Ingin mengetik di suatu tempat dan punya akses wifi gratis? Saya bisa melakukannya di berbagai perpustakaan termasuk salah satu perpustakaan favorit saya, State Library of Victoria yang fotogenik. Jika saya bandingkan dengan kehidupan saya di Jakarta, sangatlah konsumtif. Seringkali saya harus mengeluarkan uang tambahan untuk menunggu macet di mall dan untuk mengetik di luar rumah pun saya tetap harus merogoh uang untuk membeli segelas minuman.

3 hal yang menurutmu unik tentang Melbourne…
Pertama, Melbourne sangat multikultur. Di kota ini siapapun bisa berasal dari mana saja; Indonesia, Malaysia, Kolombia, Russia, Afghanistan, Spanyol, China, Korea Selatan, Syria, dan belahan bumi lainnya. Berkat tinggal di Melbourne pula lah saya berkenalan dengan berbagai jenis makanan dari banyak negara. Mulai dari ayam goreng khas Korea yang cukup menjamur di Melbourne, zapiekanka—pizza-nya orang Polandia, loukoumades—donut Yunani, hingga restoran Somalia dan Ethiopia.

Kedua, orang Melbourne juga sangat ramah dan suka ngobrol. Malah kalau boleh jujur, kadar keramahan orang Melbourne lebih tinggi daripada orang Jakarta. Setiap kali saya tersesat, pasti ada saja yang membantu. Ketika duduk di tram, meski nyaris semua orang kini terpaku pada smartphone masing-masing (termasuk saya sendiri), tapi selalu ada yang mau menyapa dan memulai obrolan.

Ketiga, ketika tinggal di Melbourne saya heran karena ternyata final olahraga bisa jadi libur nasional. Ada dua libur nasional karena olahraga, yakni grand final Australian Football League (atau disebut footy) dan Melbourne Cup (olahraga pacuan kuda).

Kalau kegiatan yang paling kamu sukai saat memiliki waktu luang apa saja?
Saya malah biasanya bekerja di akhir pekan, tapi jika sedang libur biasanya saya dan teman-teman road trip ke luar Melbourne. Atau kalau sedang malas berpergian, saya biasanya menghabiskan sore membaca di taman atau di perpustakaan.

Adakah buku yang sedang dibaca sekarang ini dan menemani kamu saat ke taman atau kedai kopi?
Saya sedang membaca ulang Life of Pi karya Yann Martel, diselingi buku kumpulan puisinya Rupi Kaur dan mendiang Ursula K. Le Guin. Dan baru saja menyelesaikan Gadis Pantai-nya Pramoedya Ananta Toer.

Apakah ada toko buku yang kamu rekomendasikan di Melbourne?
Toko buku favorit saya adalah Dymocks, Readings (khususnya yang berada di Lygon Street), Paperback Bookshop, dan Hill of Content. Tapi jika ingin melihat koleksi buku kuno, langka, dan tidak biasa, kamu wajib datang ke Kay Craddock Antiquarian Bookseller.

Apa minuman atau makanan khas di Australia yang paling kamu sukai dan harus kami coba kalau berkunjung ke sana?
Melbourne boleh jadi ibukotanya kedai kopi. Ada begitu banyak kedai kopi legendaris dan sangat populer di sini. Tentu rekomendasi saya ini berdasarkan selera pribadi. Tapi jika boleh memberi referensi, kedai kopi favorit saya adalah Little Rogue, Patricia, Duke Coffee Roasters, dan Manchester Press. Semuanya letaknya di tengah kota. Melbournian sangat bangga dengan kultur kopi mereka, maka “ibadah” kopi wajib dilakukan saat berada di Melbourne dan tentu saja harus mencoba flat white! Sederhananya, flat white itu kopi susu tanpa foam susu yang biasa tersaji di cangkir capuccino. Konon flat white ditemukan di Sydney tahun 1980-an, tapi masih diperdebatkan karena salah satu kedai kopi di Wellington, New Zealand juga mengklaim menemukan konsep flat white ini lebih dulu. Yang jelas, setelah kenal flat white, saya sulit pindah ke lain hati dan selalu memesan kopi model ini.

Untuk makanan, banyak sekali yang enak dan beragam dari berbagai bangsa. Tapi yang pasti, orang Australia suka sekali ber-barbeque di taman atau pelataran rumah.  Serunya, banyak taman publik yang menyediakan fasilitas panggangan gratis yang bisa digunakan siapapun. Ada begitu banyak tempat brunch yang seru di Melbourne, misalnya saja Higher Ground, The Hardware Societe (siap antre panjang!), Stables of Como, Wide Open Road di Brunswick atau Le Petit Prince di Fitzroy. Restoran favorit saya pun cukup random dan sulit dikategori. Untuk restoran burger saya paling suka ke Betty’s Burger. Jika ingin yang berkuah, saya suka ke Dragon Hotpot atau Hakata Gensuke. Jika sedang ingin ayam goreng ala Korea, pilihan saya jatuh ke Buza Chicken, ABC Chicken, dan Sam Sam. Untuk snacking saya biasanya meluncur ke Short Stop Coffee and Donuts, American Doughnut Kitchen (foodtruck yang hanya menjual satu jenis donat—donat gula isi selai stroberi dan mangkal setiap hari di Victoria Market), Brunetti Cafe (karena ketika semua cafe tutup sore hari, tempat ini buka sampai jam 11 malam), dan Lukumades (di depan Victoria Market).

Australia juga terkenal dengan perkebunan anggurnya, jadi bagi yang gemar nge-wine, wajib menyambangi perkebunan-perkebunan anggur di area Yarra Valley dan Mornington Peninsula.

 

Apakah di Melbourne ada hidden gem favoritmu yang jarang dikunjungi turis?
Wah saya punya beberapa hidden gem favorit! Pertama, ruang terbuka hijau di atas gedung pertunjukan Hamer Hall. Di sini kita bisa duduk-duduk dengan latar lanskap kota Melbourne lengkap dengan Sungai Yarra. Bahkan seorang teman menyebut area ini sebagai 500 Days of Melbourne (karena tempatnya agak-agak mirip lokasi saat Summer dan Tom duduk di bangku taman di film 500 Days of Summer).

Kedua, Library at The Dock. Perpustakaan satu ini letaknya agak terpencil di ujung Victoria Harbour, Docklands. Arsitekturnya modern dan dilengkapi tenis meja dan ruang untuk main games. Sesuai namanya kamu bisa membaca buku sambil memandang dermaga.

Selanjutnya menonton film di Cinema Nova. Bioskop indie ini punya seleksi film-film yang menarik dan kalau menonton di hari senin, tiketnya hanya tujuh dollar. Atau juga menikmati sunset di rooftop bar di atas Curtin House. Saat musim panas, bar ini menghadirkan rooftop cinema setiap malam, di mana kita bisa menonton film di area terbuka di atas gedung.

Keempat, kedai kopi Little Rogue yang tersembunyi di dalam gang di sekitar Little Lonsdale dan penandanya hanya pintu berwarna biru. Well, tidak semisterius itu juga, karena Google Maps bisa memandu.

Apa hal yang paling berkesan yang pernah kamu alami selama tinggal di Melbourne?
Tentunya pengalaman bekerja di kota ini. Pekerjaan saya di foodtruck memungkinkan saya untuk berkeliling dari satu festival ke festival lain. Berpindah dari satu daerah ke daerah lain, layaknya pemain sirkus keliling, hehe… Pengalaman paling berkesan tentunya saat berjualan di festival White Night dari malam hingga pagi hari (ketika seluruh kota Melbourne hidup 24 jam, dengan menyulap malam hari jadi terang benderang seperti siang hari), malam tahun baru yang super sibuk, dan Formula One Australian Grand Prix yang berlangsung empat hari nonstop. Lucunya, walau warna pekerjaannya berbeda, tapi menjadi jurnalis di Melbourne juga mengharuskan saya untuk meliput acara hingga ke banyak tempat di Melbourne dan sekitarnya. Misalnya, saya sempat meliput festival multikultural di Geelong (luar kota Melbourne), Fringe Festival, hingga Indonesian Film Festival. Bisa dibilang kehidupan saya cukup berwarna di Melbourne.

Tak cuma itu, Melbourne begitu dimanja dengan banyaknya grup band dan musisi dunia yang manggung di kota ini.  Mulai dari popstar seperti Adele, Ed Sheeran, dan Bruno Mars hingga band-band indie rajin manggung di Melbourne. Nah, momen nonton konser musik inilah yang tidak mungkin saya sia-siakan selama tinggal di Melbourne. Kapan lagi kan menonton Foo Fighters dengan band pembuka Weezer atau menonton The National di taman?

Apa cara kamu mengobati rasa kangenmu dengan kampung halamanmu sendiri?
Biasanya selain kangen keluarga, ya kangen masakan Indonesia. Asyiknya, menemukan makanan khas Indonesia tidak sulit di kota ini. Mulai dari restoran padang, kedai bakso dan mie ayam, pempek, ayam penyet, bahkan restoran gudeg pun ada. Saos sambal, mi instan, sampai jamu pun dijual di supermarket. Selain itu komunitas Indonesia (mulai dari perkumpulan orang Batak, Manado, Sunda, dan lain-lain) banyak dan rajin membuat acara.

Kalau ada teman yang berkunjung, suka kamu bawa jalan-jalan ke mana saja dan kenapa?
Kalau suka belanja biasanya saya ajak ke Queen Victoria Market (sarangnya oleh-oleh), DFO (factory outlet yang selalu diskon sepanjang tahun), atau pusat perbelanjaan macam Melbourne Central dan Emporium. Kalau suka museum atau hal-hal yang berbau budaya, saya suka ajak ke State Library, National Gallery of Victoria, ACMI, atau katedral dan gedung-gedung bersejarah. Kalau ingin foto-foto, saya ajak untuk melihat grafiti atau street art di balik gang-gang di pusat kota dan Fitzroy. Tapi yang jelas harus ngopi dan mengunjungi taman-taman Melbourne. Biasanya sih, Royal Botanical Garden dan Fitzroy Garden sudah cukup mewakili.

Kalau mau menikmati pemandangan alam, menurutmu spot yang terbaik ada di mana?
Wah, ini juga banyak sekali! Hanya saja untuk menikmati alam bebas, kita harus bermobil karena spot-spot terbaik letaknya jauh dari pusat kota Melbourne. Road trip adalah agenda wajib jika kamu tinggal atau berkunjung ke Melbourne. Bermobil ke Yarra Valley, Great Oceans Road, Dandenong Ranges National Park, dan Phillip Island mengasyikkan karena sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan alam yang seru. Selain itu trekking di kawasan Grampians dan Wilson Prom juga mengasyikkan karena pemandangan alamnya cantik.

Menurutmu kapan sih saat yang tepat untuk berlibur ke Australia?
Pada musim gugur (Maret – Mei) atau saat musim semi (September – November). Menurut saya musim gugur adalah saat terbaik untuk berkunjung, karena kita bisa mengamati daun yang berganti warna, suhu udara yang mulai sejuk tapi tidak terlalu dingin menggigit, pokoknya sangat menyenangkan menghabiskan waktu di taman-taman. Musim semi sebenarnya juga cantik, karena bisa menyaksikan bunga-bunga bermekaran, hanya saja pada musim tersebut serbuk sari atau polen bunga banyak berterbangan dan mengakibatkan serangan alergi polen (biasanya ditandai dengan hidung berair, sakit kepala, hingga asma) bagi mereka yang sensitif.

Musim panas di Melbourne terjadi di akhir tahun hingga awal tahun dan suhunya bisa mencapai 45 derajat selsius. Maka jangan heran, Australia tidak mengenal adanya White Christmas, melainkan Hot Christmas. Namun di penghujung musim panas, dari awal Februari hingga awal Maret, ada begitu banyak festival musik dan nonton bareng di taman atau di rooftop bar yang juga sayang untuk dilewatkan.

Untuk saya, urutan teratas untuk destinasi berlibur di Australia tentu saja Melbourne. Tidak hanya layak menyandang predikat the most liveable city in the world, tapi juga bisa menjadi the most loveable city in the world. Semoga kalian merasakan hal yang sama saat berkunjung ke sini…

Menarik sekali ya, keseharian Adeste di kota Melbourne ini. Belum terhitung lama jangka waktu ia menetap di kota tersebut, tapi nampaknya sudah benar-benar menikmati banyak hal yang ditawarkan kota ini. Sangat open-minded terhadap berbagai macam tipe pekerjaan sampingan menjadikan pengalamannya luas dan terasa hidup banget… Thank you so much for this insightful story of yours!

 

*semua foto milik Adeste Adipriyanti


Ibu satu anak yang suka mempercantik rumah. Sebelumnya bekerja sebagai desainer interior di IKEA. Sangat suka menulis dan menonton film yang realistis, dan penggemar berat karya-karya Woody Allen. Kamu bisa menyapa April lewat editorial (at) livingloving (dot) net

RELATED POST

So, what do you think?

INSTAGRAM
KNOW US BETTER