READING

ORGANIZING SERIES: MAXIMIZING SMALL SPACE

ORGANIZING SERIES: MAXIMIZING SMALL SPACE

Saya percaya setiap rumah punya cerita menariknya masing-masing. Dari mulai rumah yang besar sampai rumah yang kecil. Kebetulan dulu waktu masih tinggal di Bandung, saya tinggal di rumah bekas Belanda. Kalau dikira-kira, rumah saya sekarang di Jakarta cuma sebesar dapur rumah saya di Bandung dulu, haha… Rasanya dulu mau nambah barang sebanyak apapun tenang aja, soalnya pasti ada tempatnya. Beda banget dengan keadaan sekarang yang tiap mau nambah satu barang aja mikirnya bisa lama buat mikirin disimpan dimana.

Sebenarnya latar belakang tumbuh di rumah Belanda yang notabenenya gede, sempat membuat saya mikir kalau besaran atau luasan rumah itu penting banget dan kayanya saya nggak bisa tinggal di rumah yang kecil. Tapi ternyata salah. Luasan dan besaran rumah hanya faktor pendukung. Yang utama sih tetep cara pandang, kebiasaan dan pengaplikasiannya.

Syukurlah memang dari dulu suka mupeng (muka pengen) banget kalau lihat rumah-rumah di Jepang yang kecil tapi rapi banget dan kayanya nggak kekurangan fasilitas apapun. Atau kalau pas baca atau lihat tentang Tiny House Movement suka mikir, ‘Kok, bisa tinggal dirumah kecil gitu?’ dan seru banget rumahnya. Jadi punya perspektif lain bahwa luasan area yang minimal itu bisa dimaksimalkan.

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa hal yang bisa membantu memaksimalkan besaran yang kecil supaya lebih maksimal luasannya. Hal ini rata-rata hasil baca-baca buku desain, browsing, pengalaman mendesain sebagai arsitek dan tentu saja hasil dealing sehari-hari tinggal di rumah yang kecil.

  1. Membuat zonasi

Bayangkan tentang aktifitas atau ruang apa saja yang dibutuhkan dalam suatu rumah. Seperti makan, masak, tidur, bekerja, mencuci, nonton TV, tempat bermain anak, dan lain-lain. Untuk pengaplikasiannya nggak harus selalu kaku seperti dipisahkan oleh dinding. Gorden, lemari, perbedaan material, perbedaan warna cat, meja atau kursi bisa menjadi alternatif pemisah setiap zona. Pemisah zona ini penting banget supaya rumah nggak jadi clutter dan setiap tempat punya fungsinya masing-masing.

  1. Gunakan cat warna putih atau terang

Warna putih mampu memantulkan cahaya sehingga membuat ruangan lebih terang dan membuat ruangan menjadi terasa lebih lapang. Eh, dengan warna putih ini bukan berarti semuanya harus dicat warna putih ya! Kalau memang suka warna lain, bisa dijadikan sebagai aksen dekorasi atau di cat di salah satu dinding yang nggak terlalu dominan.

  1. Think vertically

Biasanya yang bikin rumah kecil terasa sumpek itu kalau semua barang disimpan di lantai. Menurutku penting banget untuk memanfaatkan dinding sampai ke plafond. Contohnya lebih baik punya satu lemari yang tinggi jadi memungkinkan untuk menyimpan barang-barang yang lebih banyak daripada punya dua lemari yang rendah. Rak atau shelf dan bunkbed yang menggantung di dindingpun jadi alternatif yang bagus untuk menghindari ruangan terasa penuh.

  1. Less is More

Rata-rata yang jadi penyebab utama clutter biasanya adalah kepenuhan barang, bahkan kadang termasuk barang-barang yang sebenarnya nggak kita perlukan. Menurutku, semakin banyak barang berarti kita akan infestasi waktu dan uang lebih banyak untuk merawat setiap barang yang kita beli. Salah satu cara yang saya pakai untuk mengatasi besaran rumah yang kecil adalah belajar merubah mindset untuk bisa mengendalikan nafsu. Bahwa nggak semua barang harus saya beli dan bahwa nggak semua barang harus saya miliki.

Saya suka banget sama quotesnya Vivienne Westwood yang mengatakan, “Buy less, choose well, make it last.”. Bikin list belanja juga bisa membantu meminimalisir terjadinya kekalapan. Kalau kelupaan bikin daftar, biasanya setiap saya sudah kebelet beli sesuatu saya selalu kasih waktu tenang untuk kasih pertanyaan sama diri saya sendiri seperti, “Apa saya bener-bener butuh?”, atau “Mau disimpan dimana nanti?”. Biasanya waktu tenang ini ngasih saya pandangan baru tentang barang mana yang saya butuhkan atau saya cuma nafsu aja ingin beli.

  1. Maksimalkan bukaan cahaya dan cermin

Untuk rumah yang kecil, penempatan furnitur memang harus hati-hati. Jangan sampai menghalangi jalannya cahaya atau angin untuk masuk. Cahaya yang masuk ini bisa bikin rumah terasa lebih besar dan udara yang masuk bisa bikin rumah terasa nggak sumpek.

  1. Furnitur atau elektronik yang bersifat multi-fungsi

Barang yang multi-fungsi ini sebetulnya selain menghemat tempat juga menghemat uang. Contohnya, meja dapur yang juga bisa berfungsi sebagai meja makan, lemari buku sebagai pembatas ruangan atau tempat tidur dengan area penyimpanan. Kalau untuk saya pribadi, selain furnitur saya biasanya cari barang lain yang multi-fungsi juga misalnya oven yang juga berfungsi sebagai air fryer, toaster dan juga alat kukus. Lumayan menghemat uang saat membeli, menghemat ruang untuk penyimpanannya dan menghemat waktu untuk ngebersihinnya.

  1. Keep it clean and organize

Area yang kecil bisa dengan lebih mudah terlihat berantakan dibanding area yang lebih besar. Tapi untungnya area yang kecil juga cenderung lebih mudah dan cepat dibersihkan. Salah satu cara membuat area rumah terasa lapang adalah dengan menjaga semua barang rapi pada tempatnya.

8. Penyimpanan terbuka
Lemari atau rak besar yang tertutup biasanya mengambil banyak ruang dan menjadi terlalu padat. Lemari atau rak terbuka memang perlu perhatian lebih terutama tentang kerapihan dan kebersihannya. Tapi lemari dan rak terbuka akan memberikan kesan ringan sehingga ruangan tidak terasa penuh.

  1. Mempelajari kebiasaan baru

Surprisingly, tinggal di area yang kecil sudah banyak merubah kebiasaan saya, sekecil kebiasaan untuk mengembalikan barang ke tempatnya atau kebiasaan untuk lebih selektif memilih home appliances. Hal paling mendasar untuk memaksimalkan ruangan tentu saja dengan belajar adaptasi dan menyesuaikan kebiasaan lama dengan keadaan ruang yang terbatas. Tentu saja pasti nggak gampang kalau soal merubah kebiasaan, tapi ini ternyata mungkin untuk diterapkan. Selain itu, mengkomunikasikan hal ini ke orang-orang yang tinggal serumah denganmu dan belajar mengaplikasikannya bersama juga bisa jadi salah satu cara.

Sekarang kalau disuruh milih, ternyata sejauh ini saya lebih suka dan lebih cocok tinggal di rumah yang kecil. Setelah dicari-cari, keuntungannya punya tempat tinggal yang kecil ternyata banyak banget. Dari mulai gampang dan cepat membersihkannya (ini penting banget untuk yang memutuskan tinggal sendiri tanpa asisten), irit (dari segala aspek seperti listri, air, biaya untuk furnitur, dan lain-lain), bisa lebih mudah untuk fokus sama kualitas dibanding kuantitas ketika membeli barang, dan lebih bonding sama semua keluarga di rumah, ya gimana nggak kalau dikit-dikit ketemu, hehe…

Ini baru sebagian dari banyak banget keuntungan tinggal di rumah yang kecil versi saya, dan kalian pasti punya versi masing-masing juga. Nah, kalau kekurangannya tinggal di rumah yang kecil tentu saja ada juga terutama berhubungan dengan besaran versus barang yang kita punya serta kebutuhan di yang diperlukan. Pastinya, kalian yang paling tau apa yang paling diprioritaskan. Semoga artikel ini bermanfaat untukmu!

 

Foto milik:
1. Ruang kerja & area tangga
Almaviva

2. Ruang kerja dengan aksen merah marun
Dendy & Darman Studio

3. Bukaan jendela dan cahaya yang maksimal
Labo the Mori

4. Dapur dengan penyimpanan terbuka
Nana

*Ilustrasi oleh Puty Puar. 28 tahun. Mantan penjaga sumur pengeboran, ilustrator, dan penulis lepas yang juga merintis label ‘Fat Bunny’. Ibu satu anak. Penyuka makanan dengan saos kacang. Blognya bisa diakses di byputy.com.

 


Si ibu rapi yang selalu punya cara untuk menjaga rumahnya tetap terorganisir. Atit berbagi ide dan inspirasi penataan di rubrik Organizing Series, juga resep simpel dan tips Homekeeping.

RELATED POST

So, what do you think?

INSTAGRAM
KNOW US BETTER