READING

CREATIVE PEOPLE: MAESY ANG + TEDDY KUSUMA FROM POS...

CREATIVE PEOPLE: MAESY ANG + TEDDY KUSUMA FROM POST BOOKSHOP

Kalau main ke toko buku kecil bernama POST di Pasar Santa, mungkin kamu bisa bertemu Maesy Angelina dan Teddy W. Kusuma, pasangan yang menjalankan toko buku berinterior putih-kuning ini. Kali ini kami mau ngobrol-ngobrol sama mereka berdua tentang suka duka menjalankan toko buku dan penerbitan independen.

Kami kebetulan sudah kenal Maesy dari 2014, waktu itu Maesy kami undang untuk ikutan Afternoon Delight Living Loving yang pertama. Nggak berapa lama setelah itu, saya, Nike, Maesy dan Dian Siradz dari Kemala Home Living sepakat bikin acara kumpul-kumpul bahas buku yang kami beri nama Cups and Pages. Kami semua memang pencinta buku, walau seleranya berbeda-beda. Makanya senang sekali melihat Maesy dengan POSTnya yang kini makin ramai dan tambah beragam koleksi bukunya.

Beberapa waktu lalu, saya sempat ketemuan sama Maesy dan Teddy di Aksara Kemang, kebetulan POST berkolaborasi dengan Aksara untuk mengkuratori beberapa buku dari penerbit independen untuk dimasukkan ke Aksara. Sambil ditemani donat empuk dan Café Latte racikan Ruang Seduh, Maesy dan Teddy pun bercerita soal pengalaman mereka menjalankan POST.

Hai..hai Teddy dan Maesy, sekarang kan POST sudah memasuki tahun kelima. Boleh tahu selama ini pembagian tugas di POST itu seperti apa?
MAESY:
POST itu cuma buka akhir pekan karena kami punya pekerjaan di hari Senin-Jumat. Nisa, bookshop keeper yang sudah bantu kami 3 tahun ini, juga punya full-time job. Tapi kalau kemarin hanya Sabtu-Minggu, sekarang buka Jumat-Minggu karena kebetulan ada anggota tim yang baru gabung dan dia bisa bantu POST di hari Jumat. Kalau pembagian tugasnya…Teddy saja deh yang cerita..haha..karena dia lebih banyak PRnya.

TEDDY:
Sebenarnya sih kami sama-sama mengerjakan semua, cuma di weekdays itu hariku lebih lowong, jadi e-mail POST, korespondensi, dan lain-lain itu banyak aku kerjain.

MAESY:
Untuk media sosial, Teddy megang Twitter, aku megang Instagram. Tapi saling bantu juga sih. Soal kurasi buku kami lakukan berdua. Teddy juga menangani pemesanan dalam dan luar negeri. Book hunting, yang ngontak-ngontak gitu juga Teddy. Aku..bikin poster..pake Canva..haha..karena kami nggak ada yang punya latar belakang desain kan. (Miranti: Yes! Hidup Canva! Memudahkan hidup banget.)

TEDDY:
Kalau event bagi-bagi sih. Kadang ada aku yang cari orangnya, atau Maesy yang cari orangnya, atau orangnya yang cari kami lalu kita konsepkan bareng-bareng. Bagi tugas lah pokoknya.

MAESY:
Tugas kami saling overlap sih. Kadang angkat-angkat kursi juga dikerjain bareng.

TEDDY:
Tapi kalau lagi mau buka toko dan ada pup kucing itu pasti tugasku sih. Ahahaha..

MAESY:
Haha..tapi cuma sekali kan?

TEDDY:
Iya cuma sekali..jadi kucingnya itu pup di gembok kami, karena kami pakai rolling door kan. Pokoknya Maesy punya excuse yang oke kalo soal harus bersih-bersih.

MAESY:
Asma. Jadi nggak boleh sama dokter kalo bersih-bersih. Ini medical order lho! Hahaha

Haha..bagian itu yang orang jarang tahu yaa. Lalu, lalu…kalian berdua kan kerja kantoran di weekday. Pas weekend gitu susah nggak sih dapat mood buat ngurus POSTnya? Kan lumayan capek ya setelah kerja.
MAESY:
Nggak sih..justru seneng. Menurutku makin kita dewasa, dunia itu rasanya makin menyusut. Apalagi kalau sangat sibuk di pekerjaan, atau sibuk sama keluarga. Lingkaran sosialnya biasanya makin menyusut. Tapi di POST aku malah merasa lingkaran social kami malah meluas. Kami ketemu banyak orang baru, jadi kami merasa lebih hidup sebagai manusia. Aku sangat cinta pekerjaanku, tapi POST mengingatkan aku kalau hidup itu nggak cuma pekerjaan aja.

TEDDY:
Jadi Jumat malam tuh menyenangkan sih. Ngerasa..”yes, tomorrow is book shop day!” hehe.. Mana deket kan sama rumah, tinggal gojekan.

Lalu perkembangan apa yang kamu rasakan selama menjalankan POST dari 2014 sampai sekarang?
MAESY:
Yang paling terasa sih sekarang itu minat untuk baca buku dari penerbit alternatif sekarang lebih besar. POST sejak awal ingin menjadi toko buku yang mendukung penerbit-penerbit alternatif yang bukunya jarang bisa ditemukan di toko buku besar. Waktu kami memulai, belum banyak yang tahu soal buku-buku ini. Tapi sekarang karena minatnya sudah tinggi, jadi banyak yang cari buku-buku ini ke POST.

TEDDY:
Atmosfer untuk buku-buku independen ini belakangan memang lebih bagus. Apalagi secara kualitas bisa dilihat dua tahun terakhir ini, yang menang Kusala Sastra Khatulistiwa atau Prosa pilihan Tempo justru buku dari penerbit independen. POST juga jadi tambah banyak teman, teman penulis, pembaca, penerbit baru.

Penerbit independen ini kenalnya dari mana?
MAESY:
Waktu baru mulai kami sangat terbantu sama Yusi Avianto Pareanom dari penerbit Banana yang juga merupakan penulis buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi. Pas cerita kalau kami berniat bikin toko buku, dia mengenalkan kami pada beberapa penerbit lain. Kami juga nanya teman-teman, siapa lagi nih yang seru? Lama-lama kaya snowball effect gitu, jadi kenal banyak orang, kenal banyak penerbit baru, jadi tahu buku-buku yang mereka terbitkan. Kadang ada juga yang e-mail ke POST menawarkan buku-bukunya.

TEDDY:
POST kan kecil ya, jadi inginnya sebisa mungkin buku-buku yang ada di dalamnya adalah buku-buku yang kami sukai. Tapi sulit juga kalau harus membaca semua buku yang ada di POST. Untuk buku-buku dari penerbit yang memang kami suka, misal dari Marjin Kiri, kami sangat suka buku-buku terbitan mereka karena kami tahu bukunya diedit dan dikurasi dengan baik. Jadi kalau mereka mengeluarkan buku baru, kami akan masukin bukunya ke POST.

Tapi kalau penerbit baru, atau yang belum ada rekomendasi dari orang yang kami percaya rekomendasinya, atau self-published, buku-bukunya harus kami baca dulu. Mungkin judul buku self-published di POST nggak terlalu banyak ya, sekitar 3-4 buku saja.

Untuk mengurasi buku-buku yang masuk itu ada diskusi berdua dulu atau sudah punya kriteria tertentu gitu?
TEDDY:
Kami saling percaya taste satu sama lain sih. Bisa saja aku yang baca bukunya trus aku bilang ke Maesy untuk masukin di POST dan dia oke saja walau dia belum baca bukunya.

MAESY:
Kami berdua itu sebenarnya seleranya bersilangan, beda tapi ada beririsan. Kami sama-sama suka sastra Indonesia yang ditulis dengan baik. Favorit kami buku karya Yusi Avianto Pareanom, Rumah Kopi Singa Tertawa. Kalau nggak ada buku itu mungkin POST nggak ada sih. Tahu penerbit independen tu dari buku itu. Kami nemu buku itu di Kineruku tahun 2013.

Lalu aku juga punya obsesi mau baca sebanyak-banyaknya buku dari penulis yang mungkin bukan penulis mainstream. Soalnya beberapa tahun lalu waktu POST baru buka, satu hari aku sempat kaget banget pas sadar kalau buku-buku di rak POST itu mayoritas ditulis oleh laki-laki kulit putih. Bukan berarti bukunya nggak bagus, ya. Tapi rasanya ingin lebih ada diversity penulis saja. Kalau katanya POST ingin menawarkan bacaan alternatif, aku jadi mikir lagi, ini kita beneran nawarin bacaan alternatif nggak sih? Makanya akhirnya buku-bukunya kami pilih yang latar belakang penulisnya lebih bervariasi. Misal buku-buku dari penulis luar yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris. Atau penulis perempuan yang menarik tapi belum banyak yang bahas. Jadi minatku lebih ke situ. Kalau Teddy lebih banyak menyelami sastra Indonesia.

What’s your favorite section at the store?
MAESY + TEDDY:
Semuanya! POST kan kecil banget ya. Jadi semua jadi favorite section sih. Tapi aku sering di kantor yang di bagian dalam itu karena ngejar kerjaan back-end work seperti bikin poster, mikirin event, curatorial words untuk Aksara, jadi ada ruangan itu sih aku suka. Tapi bagian paling menyenangkan di POST sih sebenarnya ruangan di mana kita bisa ngobrol sama pengunjung.

TEDDY:
Sama…kalau di depan itu di meja yang bisa ngobrol sama orang-orang. Aku sering lihat orang-orang yang nggak saling kenal itu ngobrol satu sama lain. Itu kali ya sisi positifnya POST ada di pasar.

MAESY:
Kami senang banget sih POST tu adanya di pasar. Bukan karena alasan operasional saja, karena pastinya harga sewanya jauh lebih murah kan. Tapi juga karena ambiencenya, dan kesan kalau buku tuh nggak ada kelas-kelasnya, siapapun boleh baca buku. Orang-orang yang datang juga beragam. Orang yang perlu nabung sebulan untuk beli buku dengan orang yang sekali datang bisa beli langsung 8 buku bisa nyambung ngobrol sambil duduk di POST. Senang banget sih ada di pasar.

TEDDY:
Plus sama tetangga sesama penghuni pasar, misal sama Mie Chino, kalau kami bikin event kan sebenarnya bisa menghalangi jalan konsumen mereka tapi mereka baik-baik saja, malah suka minjemin kursi juga. Jadi suasananya lebih kekeluargaan sih.

MAESY:
Di Aksara sini juga sama sih…rasa kekeluargaannya tuh mirip. Mungkin karena itu kami juga nyaman kolaborasi sama mereka.

Oh, soal ngobrol sama pengunjung, sebenarnya salah satu yang bikin orang senang di POST adalah karena kalian bisa merekomendasikan bacaan yang menarik untuk mereka. Biasanya gimana sih kalian memberikan rekomendasi?
TEDDY:
Biasanya sih kami tanya, dia sukanya buku-buku seperti apa. Nanti kami rekomendasikan yang kira-kira cocok. Atau bisa juga nanya, “Kamu lagi ingin bereksperimen baca buku seperti apa?” Jadi bisa juga kami rekomendasikan yang sangat berbeda dari yang biasa dia baca. Kemarin ada yang suka Haruki Murakami, kutanya aja, tertarik nggak buat coba baca penulis Jepang yang lain? Atau misal suka tema kesendirian, atau slice of life, kami rekomendasikan beberapa judul yang masih masuk tema tersebut.

MAESY:
Kadang juga kami menyarankan dia untuk baca dulu beberapa halaman awal dari buku yang kami rekomendasikan. Jadi dia bisa lihat kira-kira cocok nggak sama bacaan ini.

Pernah ketemu pengunjung yang “unik” nggak?
TEDDY:
Oh banyak! Pernah ada yang nanya rekomendasi, pas ditanya sukanya baca apa, dia jawab “aku nggak suka baca”. Jadi kurekomendasikan buku yang cepat, kayak “Aku, Meps, dan Beps” kan ceritanya pendek-pendek dan ada ilustrasi. Jadi mungkin lebih menarik buat dia.

MAESY:
Kalau buatku yang berkesan, kadang ada orang yang nanya rekomendasi tapi sekaligus curhat. Misal cari buku tentang keluarga tapi pengen yang ceritanya nggak cuma manis tapi juga ada cerita soal problematikanya. Mungkin karena pas dia juga lagi ada masalah sama keluarganya.

Maesy sama Teddy selalu mampir ke toko buku saat traveling ke luar negeri. Mana yang paling berkesan buat kalian?
TEDDY:
Banyak sih sebenarnya, dengan cara yang berbeda-beda.  Misalnya toko buku di Tokyo, namanya Infinity Books. Dia punya toko buku, punya bar, dan ada hantu di toko bukunya. Jadi sewanya murah padahal lokasinya di pusat kota. Dia juga satu-satunya toko buku Bahasa Inggris yang masih ada di Tokyo.

MAESY:
Selain itu mungkin Shakespeare and Co. walau beberapa orang menganggap toko buku itu sekarang agak touristy, efek dari film juga kali ya. Tapi kami waktu itu bisa sampai sehari tiga kali bolak balik ke sana. Waktu siang dan lagi ramai sih memang terasa touristy sih. Tapi waktu kami datang sebelum jam 10 malam waktu mereka mau tutup tu stafnya masih ramah dan dengan senang hati memberi rekomendasi bacaan buat kami.

TEDDY:
Dan ceritanya sendiri menarik sih. Sekarang kan diterusin sama putrinya setelah si bapak meninggal. Jadi ada satu buku tentang Shakespeare and Co. yang judulnya The Rag and Bone Shop of The Heart, itu kami suka sekali sih bacanya. Toko buku itu seperti anaknya si George Whitman itu. Dia ceritanya tuh romantis banget. Jadi suatu hari putrinya menata buku di rak sedemikian rupa sampai lorong di balik rak itu tertutup. Lalu George bilang, kalau kamu menata buku kayak gitu, kamu bisa memperkecil kemungkinan orang jatuh cinta saat beradu pandang dari balik rak. Sampe segitunya. Atau buku-buku penulis Rusia yang sangat romantis, jadi buku-bukunya ditaro di rak dekat jendela, jadi kalau orang baca buku bisa sambil melihat ke luar jendela ke arah sungai Seine.

Apa sih yang bikin kalian sampai sekarang ini masih terus menjalani POST?
MAESY:
Menurutku untuk kota sebesar Jakarta, jumlah tempat membaca masih sangat timpang sih. Karena buku kan nggak hanya jadi benda yang dikonsumsi, tapi toko buku itu sendiri juga bisa jadi tempat ketemu banyak teman baru. Memikirkan toko buku sebagai ruang hidup dan tempat public yang pembicaraannya dimulai dari buku, itu sih yang bikin kami bertahan.

Waktu awal kembali ke Jakarta dari Belanda, aku sempat nggak betah tinggal di sini karena aku merasa Jakarta itu jadi nggak enak untuk ditinggali, terasa kurang toleran untuk orang-orang yang punya pemikiran berbeda. Tapi sejak ada POST rasanya aku menemukan kotaku kembali. Ada ruang kecil tempat aku bisa ketemu dengan orang-orang yang mungkin aku nggak kenal tapi bisa tukar pikiran dengan enak atau punya minat yang sama. Jadi aku jadi betah lagi.

TEDDY:
Kadang alasannya juga personal banget sih. Untukku, Sabtu-Minggu itu kan waktu untuk relaks, senang  saja rasanya kalau tiap Sabtu Minggu bisa sambil baca buku atau ngobrol. Jadi bisa bikin ruang social pribadi juga buat kami. Di saat yang sama, senang rasanya kalau tempat itu bisa sekaligus jadi ruang social untuk orang lain juga.

MAESY:
Faktor lainnya adalah karena kami merasa banyak buku bagus tapi susah didapatnya. Masih ada penerbit yang hanya mengutamakan memunculkan judul baru tapi kurang memerhatikan ketersediaan stok buku yang mereka miliki. Makanya POST press, seperti toko bukunya, kami berkomitmen untuk hanya mempublish 2-3 buku setiap tahun. Tapi bukunya kami sayangi, kami cintai, dan bisa ada terus.

PRnya POST press juga masih banyak sih, salah satunya soal promosi. Kami masih harus cari cara gimana biar buku-bukunya bisa menjangkau lebih banyak orang. Penjualannya sebenarnya cukup bagus untuk ukuran penerbit independen, seperti Aku, Meps, dan Beps serta Na Willa itu sudah beberapa kali cetak ulang.

TENTANG POST PRESS
Nah pas banget, mau tanya juga soal POST Press. Gimana cerita di balik proses produksi sebuah buku?
MAESY:
Kami di POST Press kan berempat ya, selain aku dan Teddy ada Arman Dhani, sama Syarafina Vidhyadana. Di antara kami berempat, Avi yang paling punya pemikiran soal desain. Jadi dia yang lebih mengarahkan visual bukunya akan seperti apa. Termasuk soal detail seperti pemilihan font-nya dan jenis kertasnya. Makanya memang nggak bisa kejar target.

Soal memilih naskah dan proofreading biasa dilakukan bareng-bareng. Untuk editing biasa kami lakukan dalambentuk workshop bersama penulisnya. Lalu, POST press tuh malah produktif banget kalau lagi libur panjang seperti libur Lebaran atau Natal. Karena waktu luang kami juga lebih banyak.

Untuk POST press sendiri ada rencana apa ke depannya?
MAESY:
Jadi rencana kami ke depan yang paling dekat adalah open submission untuk penulis-penulis yang membuat novella. Karena sekarang banyak sekali yang menulis buku puisi atau kumpulan cerpen, tapi novel jarang. Jadi kami excited banget untuk project ini.

Bulan Juli kemarin kalian cerita kalau 3 buku karya Mba Reda Gaudiamo akan diterjemahkan dan diterbitkan oleh publisher The Emma Press dari UK. Gimana ceritanya sampai bisa bekerjasama?
TEDDY:
Jadi tahun ini kan ada Bologna Book Fair sama London Book Fair, Bologna khusus buku anak-anak. Komite Buku Nasional membuka kesempatan untuk penerbit-penerbit lokal buat ikutan. Jadi mereka buka aplikasi, nanti yang buku yang terpilih akan dibawa ke pameran di sana. Ya sudah, kami membuat dokumen aplikasi buat buku Na Willa untuk disubmit, termasuk narasi dalam Bahasa Inggris dan sampel bukunya. Waktu itu karena bukunya belum selesai cetak, jadi kami ke Subur untuk cetak copy bukunya :))

Bukunya lolos dan dibawa ke sana. Di sana ada agensi yang menjembatani penerbit luar dengan penerbit lokal yang bukunya dipamerkan di sana. Akhirnya Emma Press, Penerbit independen di UK, tertarik dan rencananya akan dirilis tahun ini dan tahun depan untuk 2 buku Na Willa.

Senang ya emang kalau bisa saling dukung. Nah melanjutkan cerita tentang kolaborasi, bisa cerita soal kolaborasi POST dengan Aksara di sini?
MAESSY+TEDDY:
Kalau di sini, POST kerjasama sama Aksara jadi ada satu pojokan khusus yang isinya buku-buku hasil kurasi kami. Ada satu meja juga isinya beberapa buku-buku yang kami highlight sesuai tema berbeda setiap bulannya. Biasanya kami tuliskan sedikit cerita soal buku tersebut biar orang-orang yang tertarik bisa memilih buku yang cocok untuk mereka.

DIY BOOK RECOMMENDATION CARD

Kalau ngomongin buku, rasanya obrolan kami nggak akan ada habisnya. Tapi waktu Maesy cerita soal recommendation card ini, saya langsung suka sama idenya. Sebagai orang yang hobi baca, kadang kalau lagi nyari bacaan trus iseng cari buku baru, pengen tahu isi bukunya tentang apa. Padahal nggak semua buku menuliskan sinopsisnya di bagian belakang. Nah, kartu rekomendasi ini bisa jadi alternatif kalau mau tahu isi bukunya. Kata-katanya juga seperti kalau seorang teman mau berbagi cerita soal isi buku dan kesan yang ia tangkap setelah membacanya. Jadi saya mengajak Maesy untuk bikin recommendation card ini sama-sama.

Bahan-bahan yang kami pakai cuma kertas cat air (saya pakai watercolor paper dari Artemedia) sama India Ink (saya pakai Bombay Ink-nya dr. Ph. Martin). Alasannya karena tinta ini kalau sudah kering hasilnya tahan-air. Jadi nggak perlu khawatir catnya luntur dan mengotori buku di rak (bisa nangis kalau buku kena air atau cat yaa kan?) Saya encerkan sedikit biar ada efek transparan seperti cat air. Lalu saya tulis judul bukunya pakai India Ink yang tidak diencerkan. Setelah kering, baru deh Maesy menulis kalimat rekomendasinya di bagian bawah. Cek video di bawah ini untuk lihat cara bikinnya sambil cari tahu buku-buku apa saja yang direkomendasikan Maesy.

Terimakasih Maesy dan Teddy untuk waktunya dan obrolan seputar buku. Senang banget waktu pulang kami dikasih buku “We Are Nowhere and It’s Wow” karya Mikael Johani yang diterbitkan oleh POST Press. Semoga project-project POST berikutnya berjalan lancar! ;)

 

*foto buku Na Willa dan toko buku POST di Pasar Santa diambil dari instagram POST


Penyuka craft yang lebih senang dapat voucher toko buku dibanding voucher baju. Ibu satu putri yang akrab dipanggil Mamir ini selalu sibuk cari inspirasi dekor atau palet warna di internet sambil menyantap segala macam penganan yang ada di studio Living Loving. Kamu bisa menyapa Mamir di akun Instagram-nya (@mamiraz) atau mengontaknya di miranti (at) livingloving (dot) net

RELATED POST

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER