LIANGGONO: MEMADU RASA LEWAT VISUAL

Di era masyarakat digital yang sekarang ini banyak bergantung pada media sosial, keindahan visual jadi salah satu faktor penting dalam menyampaikan suatu pesan. Ini alasan kenapa Lianggono memilih untuk mendalami dan memperkenalkan profesi product stylist yang mungkin belum banyak terdengar di dalam negeri. Beragam karya mulai dari penataan editorial, interior, produk maupun makanan. Menciptakan identitas bagi sebuah merek ataupun menambah daya tarik suatu produk menjadi tantangan dalam kesehariannya. ‘Read More’ untuk melihat bagaimana ia menuangkan idenya dalam bentuk visual…

Boleh ceritakan tentang pekerjaanmu?

Saya bekerja di konsultan kreatif dalam bidang product styling, sets dan desain interior. Menciptakan sesuatu dalam bentuk visual untuk branding suatu merek. Secara branding, bagaimana mereka ingin dilihat dan dikenal oleh masyarakat. Mulai dari konsultasi sampai dengan produk akhir. Media yang ditonjolkan bisa berupa furnitur bahkan sampai produk-produk seperti kosmetik. Selain itu, ruang komersil seperti hotel yang ingin diciptakan sebuah visual sebagai alat pemasaran.

Saya fokus terhadap produk dan mencari tau karakter materialnya. Mempercantik penataan dan bagaimana menciptakan komposisi yang enak dilihat. Tapi secantik apapun benda yang saya tata, saya berusaha untuk nggak membohongi publik. Seperti halnya penataan makanan untuk branding suatu merek, saya nggak akan bohong secara quantity yang disajikan setiap porsinya.

Deskripsikan dirimu dalam 3 kata…

Imperfect, comfort, contrast. Pendekatan saya dalam setiap karya itu selalu berani memasukkan elemen yang nggak biasa. Entah itu dalam konteks warna, bentuk ataupun material. Jadinya memberikan kesan eklektik dan secara visual itu lebih menonjolkan produk yang sedang disorot.

Sejak kapan kamu mulai mendalami bidang yang kamu jalani sekarang? Apa yang membawa kamu ke titik ini?
Awalnya saya bekerja sebagai feature editor di majalah Elle Decor. Lulusan desain interior tetapi selalu tertarik dengan menulis. Merasa menulis interior tidak semudah menulis lifestyle, tetap membutuhkan pengetahuan akan hal-hal yang saya pelajari selama kuliah. Sangat menikmatinya tapi lama-kelamaan tertarik dengan penataan dalam pemotretan editorial.

Semenjak kerja di sana, baru tau ada profesi product stylist dan akhirnya menawarkan diri kepada editor-in-chief untuk ikut menata dalam pembuatan spread editorial. Saat itu saya menyadari bahwa cara berpikir saya lebih secara visual. Makin kesini makin terlihat bahwa kebanyakan orang sudah mulai concern atau peduli dengan keindahan visual, di jaman yang sekarang sudah bergantung pada sosial media.

Apa yang paling kamu sukai dari pekerjaanmu?
Setiap ada proyek yang datang pasti selalu excited. Saya percaya bahwa setiap produk atau interior punya language yang berbeda. Pembahasaan visual yang berbeda banget dan jadi tantangannya tersendiri. Tantangan untuk membuat masing-masing penataan menarik secara visual itu yang bikin saya senang setiap bekerja.

Boleh ceritakan tahapan dalam proses kreatifmu? Apa hal yang paling pertama kamu kerjakan setelah mendapatkan sebuah brief desain?
Satu, saya harus dengar dari mereka. Selain brief desain yang ada, pasti mereka sendiri punya keinginan. Aku ingin visual yang tercipta bukan karakter saya sendiri tapi hasil dari apa yang brand ini inginkan. Banyak dengar, banyak tanya. Maunya seperti apa dan sejarah dibalik produk mereka ini bagaimana. Bikin moodboard untuk pemotretannya akan seperti apa moodnya sampai hasil akhir visualnya bagaimana.

Baru setelah itu saya membuat sketsa visual akhirnya seperti apa, beserta keterangan material dan konsep pencahayaan yang akan digunakan. Dari situ, saya lemparkan ke fotografer dan biasanya selalu ada feedback atau tanggapan dari mereka. Apakah secara pencahayaan memungkinkan dengan kondisi lapangan, atau pemilihan materialnya sudah sesuai. Apakah memerlukan produk pendukung yang lebih mengkilap atau sebaliknya.

Setelah itu saya sampaikan tentang semua feedback tersebut ke klien saya. Kalau sudah sesuai dengan keinginannya, lanjut ke tahap preparation. Sehari sebelum pemotretan ada tahap propping dimana saya menyiapkan segala produk pendukung latar dan lain-lain. Tahapan terakhir berupa pemotretan on-the-spot.

Di saat mendapatkan proyek untuk menata suatu produk, apa saja pertimbanganmu dalam memilih produk-produk pendukungnya?
Dari brief desain dan konsep yang sudah dibicarakan dengan klien. Dari mood yang ingin diciptakan, bisa dilihat apa saja material benda yang perlu dihindari atau malah yang bisa mendukung produk intinya.

Ada nggak, elemen atau fitur tertentu yang menjadi ciri khas lianggono dan selalu kamu gunakan di setiap proyek yang kamu kerjakan? Kenapa?
Saya selalu berupaya supaya foto itu nggak jadi foto yang biasa, karena kemungkinan besar banyak produk lain yang serupa. Obyek yang selalu saya gunakan di setiap proyek itu adalah bunga. Bukan hanya yang terlihat bagus, justru yang tidak sempurna yang paling saya sukai. Di mata saya, bunga yang layu atau kering itu lebih mempunyai kehidupan. Saya senang mendokumentasikannya karena setiap bunga seperti bercerita dan ingin saya freeze dalam sebuah bentuk visual.

Dari semua proyek yang sudah kamu kerjakan, yang mana yang paling berkesan untukmu dan kenapa?
Banyak sekali karena setiap proyek punya tantangannya tersendiri. Salah satunya adalah pemotretan untuk katalog Juno Home, yang prosesnya memakan waktu selama dua minggu. Mereka meminta penataan interior yang tidak terlihat seperti di showroom. Ingin menginspirasi pembaca soal bagaimana cara menata furnitur yang terasa nyaman di rumah, dengan memadupadankan produk-produk yang mereka miliki.

Saat itu kami membuat set di showroom, lengkap dengan tambahan dinding latar dan juga lantai. Penataan untuk kebutuhan katalog dibedakan dari apa yang terdisplay di showroom. Mereka memberikan list furnitur dan dari situlah saya mendesain dummy per halaman, misalkan paduan meja ini dengan kursi itu. Seru banget kerjanya, dari pagi sampai malam.

Menurutmu, apa hal yang paling menantang di dalam proses styling?
Ketika klien cerewet, hahaha… Tapi sebenarnya cerewet itu harus, dari situ kita bisa belajar banyak. Mungkin yang agak tricky adalah ketika mereka memiliki keinginan yang tidak bertemu dengan apa yang sudah saya kerjakan. Di saat mereka masih saja merasa ada yang kurang dengan hasil akhirnya.

Seperti apa sih, proyek yang ideal bagimu?
Yang ideal menurut saya adalah yang memberikan kebebasan untuk berkreasi, tanpa brief desain yang mengikat. Tidak client-driven dan mengikuti keinginan mereka secara penuh. Salah satunya ketika mengerjakan proyek editorial, seperti spread di majalah. Istilahnya dalam kasus ini, hanya otak dan imajinasi saya yang bermain. Nggak ada campur tangan orang lain, sepenuhnya apa yang ingin saya sampaikan bisa tercapai melalui visual ini.

Apakah ada saran dan tips khusus untuk mereka yang ingin memulai mendalami styling?
Sejauh ini belum dengar ada banyak yang mendalami profesi ini. Mereka harus berani mencoba apapun itu, mulai dari style yang sangat rustic, klasik atau modern banget. Setelah kita coba semua, baru ketauan karakter kita itu seperti apa. Jadi saat orang mau bekerja sama dengan kita, mereka tau karakter kita apa. Banyak mendengarkan. Do more, talk less.

Jika diberi kesempatan untuk bekerjasama atau belajar dari product/interior stylist lain, siapa yang akan kamu pilih? Apa yang kamu sukai dari karya-karyanya?
Studio Pepe di Milan. Mereka juga merupakan konsultan kreatif yang berhubungan dengan visual branding dan product-styling. Sangat mengagumi mereka karena menurut saya karya mereka itu pass through the boundaries. Apa yang kadang nggak kepikiran sama kita, mereka bisa bikin.

Apakah rencana kamu ke depannya untuk karya-karyamu?
Sepertinya seru kalau bisa menciptakan instalasi produk atau interior dalam skala yang cukup besar. Semacam conceptual exhibition yang bisa menginspirasi pengunjung melalui penataan interior tersebut. Sekarang ini lagi ingin juga merambah ke desain produk. Setelah melewati banyak proyek, jadi makin besar keinginan untuk menciptakan desain produk sendiri yang bisa digunakan sebagai pendukung selama bekerja. Harapannya dapat berkolaborasi dengan brand-brand lain.

Apakah kegiatan favoritmu saat sedang tidak bekerja?
Setiap pagi sebelum bekerja saya suka menyempatkan diri untuk berlari di sekitar taman yang ada di dekat tempat tinggal saya. Walaupun nggak sempurna seperti taman-taman yang ada di luar negeri, tapi saya selalu saja mendapatkan inspirasi. Justru kondisinya yang tidak sempurna itu membuat saya menemukan banyak hal-hal yang menarik. Tamannya cukup luas dan di dalamnya terdapat kolam bunga teratai.

Gimana cara kamu mendefinisikan kata ‘sukses’?
Sukses menurut saya bukan dari besaran uang yang didapat atau dimiliki tapi seberapa besar sudah memberikan inspirasi bagi banyak orang. Suatu pencapaian kalau setelah bertahun-tahun pun mereka masih bisa mengingat karya saya. Selain itu, bisa merasa sukses ketika yang saya lakukan saat ini merupakan hal yang benar-benar saya sukai.

Terima kasih atas kunjungan Lianggono ke studio kami dan sudah sharing banyak hal akan profesi menarik ini. Nggak bisa dipungkiri kalau keindahan visual itu selalu jadi bagian penting dalam kehidupan kita dan mempengaruhi setiap keputusan saat ingin mencari sebuah produk. Semoga bisa makin menginspirasi makin banyak orang melalui karyanya!

 

*semua foto merupakan milik Lianggono Susanto, bekerja sama dengan fotografer Melanie Tanusetiawan. Proyek-proyek yang ditampilkan merupakan penataan Elle Decoration, Klots Furniture, Dore by Letao, Juno Home.


Ibu satu anak yang suka mempercantik rumah. Sebelumnya bekerja sebagai desainer interior di IKEA. Sangat suka menulis dan menonton film yang realistis, dan penggemar berat karya-karya Woody Allen. Kamu bisa menyapa April lewat editorial (at) livingloving (dot) net

RELATED POST

So, what do you think?

INSTAGRAM
KNOW US BETTER