READING

HOMEKEEPING: ORGANIC & INORGANIC WASTE

HOMEKEEPING: ORGANIC & INORGANIC WASTE

Ternyata untuk membuang benda yang nggak terpakai lagi itu nggak sembarangan, lho… Butuh kesadaran yang tinggi untuk memisahkan antara yang bisa didaur ulang maupun nggak. Atit menjelaskan jenis sampah yang biasa ditemui di dalam rumah dan bagaimana mengolahnya…

Adakah yang pernah merasa jengah sama jumlah sampah yang sehari-hari dihasilkan di dalam rumah? Atau bahkan ada yang sudah mengurangi tapi masih kebingungan dalam memisahkan sampah dan apa yang harus dilakukan setelahnya? ATAU, ada yang merasa percuma misahin sampah karena ujung-ujungnya bakal disatuin juga di TPA (Tempat Pembuangan Akhir)?

Whiiii… Same here, I feel you! Hehehe… Walaupun penerapan di dalam keseharian saya masih jauh dari sempurna, tapi di artikel kali ini saya akan cerita sedikit tentang hal-hal sederhana yang biasa saya lakukan dengan organic dan inorganic waste di rumah.

Waste sendiri arti secara generalnya adalah barang yang sudah nggak dibutuhkan dan nggak punya nilai guna lagi. Sifatnya sangat subjektif karena sesuatu yang dianggap sampah oleh seseorang belum tentu merupakan sampah bagi orang lain. Maka dari itu, saya selalu merasa sampah ini sifatnya personal banget. Ada dua tipe buangan yang akan sedikit dibahas kali ini, yaitu:

  • Organic waste, yang sering diartikan sebagai buangan dari turunan makhluk hidup (hewani dan nabati) melalui proses alami. Biasanya punya sifat biodegradableContohnya seperti ampas kopi, sisa bahan makanan, kulit atau biji buah dan sayur, kertas, kardus, daun kering, dan lain-lain.
  • Inorganic waste, yaitu buangan industrial yang bukan berasal dari makhluk hidup dan mengalami proses yang nggak alami. Biasanya mengandung mineral dan partikel lain yang nggak mudah untuk dilebur dengan alam. Sifatnya non-biodegradableContohnya seperti semua varian plastik, kaleng, alumunium, botol minum, sedotan, pembalut, dan lain-lain.

ORGANIC WASTE

Setelah mengubah pola makan dan konsumsi beberapa tahun terakhir, limbah organik termasuk yang paling banyak dihasilkan di dalam rumah saya. Saya juga sempat menyebutkan sebelumnya, salah satu alasan saya melakukan food prep adalah untuk mengantisipasi food waste yang juga merupakan limbah organik. Secara general sebetulnya sampah organik ini bisa ditanggulangi dengan pola konsumsi berkesadaran dan sampahnya bisa dikompos.

Nah, tapi untuk memaksimalkan waste yang saya punya sebelum dikompos, biasanya ada beberapa yang bisa saya upayakan. Sebetulnya ada cukup banyak yang bisa dilakukan dengan sampah organik ini, tapi beberapa yang paling sederhana misalnya kulit jeruk atau lemon dan sisa bumbu dapur yang dicampur dengan cuka dan bisa menjadi pembersih alami. Mulai dari cairan pembersih alas permukaan kabinet dapur, lap kaca sampai cairan pembersih lantai rumah. Contoh caranya pernah saya post di akun instagram saya…

Contoh lainnya seperti kulit jeruk yang bisa juga dimanfaatkan sebagai sabun cuci piring sampai jadi sugar scrub. Bonggol sayur dan herbs (rosemary, thyme, basil, dkk) bisa ditanam ulang untuk kita panen ulang nantinya. Hal-hal sederhana seperti ini kalau berhasil diterapkan di dalam keseharian jadi “nyandu” banget efeknya, apalagi untuk saya. Rasanya kayak pengen coba hal lain untuk menangani sampah di rumah. Which is good…

INORGANIC WASTE

Walaupun kebiasaan untuk mengonsumsi makanan kemasan dan sampah sekali pakai sudah lumayan berkurang, tapi saya sendiri masih tetap nyampah kok, haha… Ada beberapa barang yang belum bisa berpisah dari saya seperti roller dust. Selain itu, karena saya tinggal bersama suami yang juga punya pola konsumsi yang berbeda dari saya, dia lumayan banyak mengumpulkan sampah anorganik. Mulai dari botol plastik sampai kemasan sekali pakai ataupun tisu.

Beda dengan buangan organik yang bisa “hilang” karena punya sifat biodegradable, buat saya sampah anorganik itu lebih tricky untuk ditangani. Di luar dari organic waste, saya memisahkan sampah anorganik di rumah dalam beberapa kategori sederhana:

  • Plastik kemasan (skincare, yoghurt cup, mangkuk, dan lain-lain)
  • Plastik air mineral
  • Kertas dan kardus tanpa plastik (bisa dikompos)
  • Elektronik (charger, kabel, baterai, dan lain-lain)
  • Kain bekas jahit
  • Sampah yang nggak bisa dikompos dan nggak punya nilai jual (tisu, stiker, label, dan lain-lain)

Yap… Jadi kenapa saya bilang lebih tricky, karena sistem recycle atau daur ulang di negara kita ini memang belum semaju pola konsumsinya. Saya masih sangat meraba dan mencari informasi tentang penanganan sampah ini. Sementara ini, semua barang ini bisa disalurkan melalui bank sampah untuk didaur ulang di tempatnya masing-masing. Kamu juga bisa menghubungi Parongpong RAW Management dan Waste4change untuk bantuan mereka dalam memberikan ide soal penanganan limbah rumah tangga.

Walaupun yang saya lakukan ini terbilang masih cupu banget, tapi semoga bisa jadi batu loncatan untuk melakukan hal lain yang lebih besar ya! Kalau ada yang bisa menambahkan atau mau berdiskusi tentang penanganan sampah di rumah, saya tentu sangat seneng sekali! Kita lanjut diskusi di kolom komentar di bawah ini, ya…

 

*Ilustrasi oleh Puty Puar. 28 tahun. Mantan penjaga sumur pengeboran, ilustrator, dan penulis lepas yang juga merintis label ‘Fat Bunny’. Ibu satu anak. Penyuka makanan dengan saos kacang. Blognya bisa diakses di byputy.com.


Si ibu rapi yang selalu punya cara untuk menjaga rumahnya tetap terorganisir. Atit berbagi ide dan inspirasi penataan di rubrik Organizing Series, juga resep simpel dan tips Homekeeping.

RELATED POST

  1. Imel

    28 June

    Kak Atit! Sekedar info aja, untuk sampah elektronik bisa ke ewasteRJ di Instagram, bisa di drop ke dropbox-nya mereka atau bisa juga dikirim ke alamat mereka :)

  2. Menarik sekali artikelnya. Sdh lama sy mencari artikel ttg pemisahan jenis2 sampah di rumah. Terimakasih sharingnya mbak atit

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER