LOVELY NEST: NYANYA + ING

Kami mengenal keluarga ini sejak mereka aktif di salah satu web yang kami ikuti saat kami baru jadi orang tua baru, The Urban Mama. Bukan kenal langsung, sih. Tapi lebih tepatnya mengikuti cerita lewat blog mereka dan mengagumi karya-karya mereka sampai akhirnya bisa kenalan dengan mereka. Meet Nyanya, Ing and Rinjani of The Babybirds at their own lovely nest.

Kecintaan Nyanya dan Ing akan seni rupa dan desain sangat terasa ketika kami masuk ke dalam rumah berluaskan 104 m2 di kota Bandung ini. Kalau kamu juga “pelanggan setia” The Babybirds, kamu pasti langsung sadar kalau sebagian elemen yang menghias sudut-sudut ruang rumah ini adalah karya mereka sendiri.

Apa sih kesibukanmu dan suami di dalam keseharian kalian?
Sehari-hari, Nyanya lebih banyak beraktivitas di dalam studio The Babybirds, yang lokasinya di rumah. Sesekali ada kegiatan di sekolah Rinjani, ngantor sekali seminggu sebagai freelancer, dan sisanya ngumpul sama teman-teman. Ing muter-muter antara kantor-studio-jemput Rinjani sekolah.

Sebutkan 3 kata yang sangat mendeskripsikan diri kalian…
Playful, laid-back, …pemalu?

Apa konsep keseluruhan dari rumah ini dan kenapa kalian memilih konsep tersebut?
Sebenarnya nggak ada konsep khusus. Kami hanya menekankan ke arstiteknya bahwa kami ingin rumah yang penuh dengan natural light. Pencahayaan alami ini diperlukan untuk kebutuhan foto, tanaman, dan juga mengurangi pemakaian lampu atau penerangan buatan. Selain itu, kami juga ingin sirkulasi udara yang baik. Kalau soal desain, arsiteknya mengusulkan untuk mengadaptasi nama blog kami, The Babybirds. jadi ada beberapa elemen yang dibuat berbentuk sarang burung, seperti di bagian fasad rumah sama area meja makan.

Bagaimana awalnya muncul nama Birdie House?
Diambil dari nama blog kami, The Babybirds. Sebagai anak-anak burung, tentunya rumah kami sangat cocok untuk dinamakan Birdiehouse alias rumah burung. Tentang kenapa namanya The Babybirds, nah itu bisa ubek-ubek di blog kami saja, ada ceritanya…

Berapa lama pembangunan rumah ini dan bagian mana yang paling menarik dari proses pembangunannya?
Rumah ini dibangun kurang lebih selama lima bulan. Renovasi, lebih tepatnya. Setiap prosesnya menarik sih, karena kami berdua mengontrol sendiri semua detil pengerjaannya. Tapi yang paling “drama” dan melelahkan itu adalah proses pembuatan tangga. Tangga ini dibuat oleh vendor khusus yang berbeda sama tukang sipilnya, karena materialnya besi. Karena kurang koordinasi antara vendor tangga dan tukang bangunan, ada kesalahan pengukuran yang ujung-ujungnya ada beberapa bagian yang harus direvisi di tempat.

Selain itu, secara desain juga tangga ini agak menantang hukum fisika. Bagian yang seharusnya ada tiang atau kaki, kita ngotot untuk nggak mau pakai kaki karena ingin tampilannya seminimalis mungkin. Akhirnya, vendornya memutar otak gimana caranya supaya tangga tetap bisa berdiri dan terpasang dengan rapi. Juga aman tanpa harus mengubah desain. Alhamdulillah setelah semua drama, tangganya bisa selesai sesuai dengan yang kami inginkan.

Siapakah arsitek dan desainer interior yang mendesain rumah ini?
Rumah ini didesain oleh Mande Austriono dari DFORM Studio.

Dari mana kalian mendapatkan inspirasi dalam proses mendesain rumah ini?
Semuanya dibuat berdasarkan kondisi existing rumah yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan kami. Sedangkan kalau untuk desain interiornya, semuanya berdasarkan selera pribadi kami saja. Nggak merujuk ke style atau gaya tertentu. Kalaupun ada, paling soal penambahan unsur bentuk ‘rumah burung’ tadi, yang diadaptasi dari blog kami supaya tetap tematik.

Apa yang membuat kalian suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan arsitektur, desain dan seni rupa?
Entah apa yang membuat kami suka, tapi yang pasti kami berdua sama-sama penikmat seni jauh sebelum beneran bekerja di bidang seni. Bawaan lahir saja, mungkin. Secara naluriah selalu tertarik sama segala sesuatu yang terdesain dengan baik. Entah itu majalah, rumah, lukisan, bahkan tata kota.

Di mana bagian rumah yang paling kalian sukai dan kenapa?
Bagian yang paling disukai adalah area meja makan, karena ibarat kota, meja makan itu untuk kami adalah alun-alunnya. Kami suka ngobrol dan mengundang teman-teman ke rumah. Jadi meja makan itu selalu jadi tempat yang paling cocok karena apapun kegiatannya, pasti ada acara makan-makannya.

Dengan luasan area yang terbatas, boleh berbagi beberapa tips dalam mendekorasi dan menjadikan sebuah ruangan agar terasa nyaman?
Kalau ngomongin soal kenyamanan, semua orang pasti punya preferensi dan standar masing-masing ya…. Kalau kami sih prinsipnya, surround yourself with things you love. Jadi terlepas dari ruangannya yang luas atau sempit, selama isinya adalah barang-barang yang kami sukai dan butuhkan, pasti kami akan merasa nyaman. Dan satu lagi, harus jujur sama kenyamanan kamu sendiri. Maksudnya, jangan terpengaruh sama tren atau standar kenyamanan orang lain.

Misalnya, mentang-mentang minimalism a la Marie Kondo lagi ramai dibicarakan, terus kita jadi maksa ikut-ikutan menerapkannya. Padahal nggak sesuai sama kata hati. Klise sih, tapi be yourself itu tetap selalu paling penting sih… Nggak ada yang lebih nyaman selain menjadi diri sendiri dan ngikutin kata hati.

Dari mana saja kalian mendapatkan furnitur dan dekorasi di dalam rumah ini?
Kami tinggal bersama oma-nya Rinjani, jadi sebagian furnitur di dalam rumah ini merupakan warisan dari oma. Misalnya, bufet jati di ruang tengah. Sebagian lagi untuk menyelaraskan sama bufet jati, kami juga dulu suka hunting furnitur jati di tukang-tukang loak. Sekarang udah nggak, karena rumahnya udah penuh, hahaha… Sisanya, sebagian besar isi rumah ini didominasi oleh produk-produk IKEA.

Apa saja fitur-fitur yang menarik di dalam rumah ini?
Hampir di semua area dalam rumah ini ada berbagai macam tanaman. Selain itu, jendela-jendela kaca yang besar bikin rumahnya menjadi terang dan bermandikan cahaya matahari. Jadi enak untuk foto-foto karena nggak perlu cahaya buatan. Mungkin untuk yang suka merawat tanaman atau suka suasana di saat musim panas, rumah ini akan menarik baginya.

Apa saja kegiatan favorit kalian saat meluangkan waktu bersama di rumah?
Bikin-bikin! Mulai dari bikin arts & crafts, proyek-proyek DIY, sampai bikin makanan atau masak-masak bareng.

Apakah kalian mempunyai koleksi tertentu di rumah dan kenapa mengoleksi benda-benda tersebut?
Koleksi tanaman karena memang suka bercocok tanam. Selain itu mungkin karena tanaman bisa dijadikan props untuk foto.

Sejak kapan kalian menggemari koleksi ini?
Sejak beberapa tahun yang lalu. Awalnya kami butuh tanaman untuk props foto. Mulai dari pot-pot sukulen yang berukuran kecil, semakin lama kebutuhannya jadi semakin beragam. Akhirnya karena memang pada dasarnya kami suka dengan tanaman, jadi keterusan memelihara deh…

Apakah ada tips khusus dalam menjaga keutuhan koleksi kalian ini?
Kalau soal tanaman pasti ada banyak tips dan trik sih, tapi yang paling mendasar soal merawat tanaman adalah mengatur ketersediaan cahaya matahari. Semua tanaman itu butuh cahaya matahari, tapi intensitasnya berbeda-beda. Jadi kalo mau punya tanaman indoor atau houseplants, mengatur posisi tanaman itu sangat penting. Supaya nggak ada tanaman yang layu atau pucat karena kekurangan cahaya, atau sebaliknya kering karena keseringan kena cahaya matahari.

Di dalam hunian ini, apakah kalian menerapkan aturan-aturan tertentu untuk dipatuhi bersama, dikerjakan secara rutin ataupun bergantian?
Salah satunya yaitu mendisiplinkan Rinjani untuk bertanggungjawab atas barang-barangnya sendiri. Juga, membiasakan Rinjani untuk mencintai tanaman dengan melibatkan dia untuk rutin menyiram atau memindahkan tanaman.

Apa rencana-rencana kedepannya untuk kelengkapan desain rumah ini?
Sebenarnya rumah ini belum selesai dan masih ada beberapa pe-er yang belum dikerjakan. Misalnya pengerjaan kanopi depan untuk area carport, pagar depan, dan fasad atau bagian depan rumah. Jadi, prioritas kami sekarang yang tiga itu dulu.

Di dalam bayanganmu, rumah yang ideal dan terdesain dengan baik itu seperti apa, sih? Apa hal yang paling penting menurutmu dalam sebuah hunian tinggal?
Rumah ideal itu pastinya rumah yang memenuhi kaidah-kaidah arsitektur. Bukan cuman masalah estetika, tapi lebih ke sirkulasi udara, cahaya, pembagian ruang, pengalaman ruang, pokoknya hal-hal teknis yang krusial. Lebih jauh lagi, rumah ideal itu rumah yang sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Dengan kata lain, rumah yang secara estetika bagus atau rumah yang luas dan megah itu belum tentu bisa dibilang ideal. Karena kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan tetap yang paling utama.

Yuk, lihat seperti apa rumah ini dengan desainnya yang dipikirkan secara matang, lengkap dengan pencahayaan alami yang mencukupi dalam video di bawah ini.

Terima kasih ya Nyanya, Ing dan Rinjani sudah meluangkan waktunya untuk kami dan cerita banyak soal proses renovasi rumah ini. Melihat rumah sebagai sebuah kanvas menjadi konsep yang sangat menarik untuk bisa mengapresiasi setiap sudutnya. Semoga kalian bisa menginspirasi lebih banyak orang lagi dari kreasi-kreasi kalian ke depannya!

 

*Video oleh Akita Messakh dan Septian Hadi


RELATED POST

  1. filicia

    7 June

    Amat sangat bagus sekali rumahnya. Biasanya naksir dengan rumah yang atap segitiga. kali ini atap segitiganya di bawa ke sekat ruangan dan meja rias, inspiratif sekali.

    Eh ya entah mengapa foto-fotonya tidak muncul di tempat saya, jadi tadi cuman lihat lewat videonya saja.

    • Miranti

      11 June

      oya? wah coba nanti kami cek ya. Thank you, Fili :*

  2. Suka banget sama rumah ini. Pemakaian cat warna putih bener2 bikin rumah jadi seperti kanvas. Jadi bisa lebih bebas bermain aksen di unsur lain. Furniture vintage kayu yg diaplikasikan juga keren, bikin lebih homy

  3. pukamiami

    29 June

    Huhu, suka banget sama rumahnya. Makasih banget udah bikin liputan rumah inspiratif ini. ><

    • Nike Prima

      12 July

      sama-sama..kami senang sekali bisa ikut menyebarkan cerita rumah dan para penghuninya.:)

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER