ORGANIZING SERIES: KITCHEN CABINET

Merapikan dapur kadang jadi kegiatan yang ditunda-tunda dan akhirnya kelabakan saat harus bebersih. Atit berbagi tips untuk menyicil prosesnya, supaya penyimpanan di dalam dapur bisa tetap konsisten rapi. Selain terasa lebih efisien juga membuat nyaman selama beraktivitas di dalamnya…

Adakah yang suka beres-beres dan bersih-bersih mendekati lebaran? Atau adakah yang mencari alternatif kesibukan ngabuburit? Atau hanya memang ingin merapikan dapur supaya terasa lebih nyaman?

Organizing series kali ini tetap hadir dalam pembahasan domestik, yaitu organizing kitchen cabinet. Saya pernah mengalami kondisi dapur yang berbeda-beda sebanyak lima kali. Mulai dari dapur bersama orang tua dengan adanya asisten rumah tangga, dapur sharing bersama sodara, dapur pribadi dadakan di kosan, dapur sharing bersama orang lain yang nggak dikenal lalu terakhir akhirnya merasakan dapur pribadi di rumah tanpa bantuan asisten rumah tangga.

Dari pengalaman mencoba berbagai jenis dapur tersebut, saya jadi paham bahwa sifat dapur setiap tempat itu bisa sangat berbeda. Ada yang suka dapur kering, dapur basah, dapur kecil, dapur yang bisa mengakomodir banyak orang, ataupun dapur dengan peralatan yang lengkap dan lucu-lucu seperti Asti Husain. Tapi dari semua perbedaan tersebut, mungkin kebanyakan orang akan senang untuk melihat dapurnya rapi. Kata rapi di sini pun sangat relatif, ya…

1. DECLUTTERING FIRST
Menurut saya cara terbaik untuk merapikan dapur adalah dengan mencari tau dulu pola kerja kita di dapur. Lalu, alat atau barang apa yang kita pakai setiap hari dan mana yang hanya untuk keadaan tertentu. Dengan decluttering barang-barang yang nggak kita butuhkan dan bahkan nggak memberikan perasaan senang terhadap kita, akan membuat kita untuk lebih fokus terhadap fungsi, kebersihan dan estetika.

Ditch Extra Dishes: Piring, mug, cangkir, gelas dan mangkuk saji mungkin memang cantik dan menarik. Tapi kalau nggak kita pakai secara rutin, biasanya justru bisa menjadi sumber debu dan clutter. Untuk kasus saya, cukup dengan menyimpan piring yang dipakai sehari-hari dan menyediakan ekstra untuk acara kumpul-kumpul dan kebutuhan photoshoot.

Toss Anything Old or Broken: Beda dengan baju dan aksesoris yang kita pakai ke luar rumah, barang-barang dapur yang rusak atau sudah usang biasanya kurang mendapatkan perhatian. Mungkin ini saatnya mengganti yang harus diganti, menyingkirkan yang sudah tidak bisa terpakai dan mendonasikan atan menjual yang masih layak dipakai untuk orang lain. Yuk, coba bebenah lagi isi dapurmu dengan bantuan list barang dari Puty Puar di bawah ini…

Sebagai panduan decluttering bisa dibaca di artikel Organizing Series: Decluttering 101 yang saya bahas di awal tahun ini. Setelah proses declutter ini selesai, biasanya saya cek ulang apakah ada barang yang masih saya perlukan untuk kelengkapan dapur. Jika ada, sekarang mungkin saat yang tepat untuk membeli atau mencatat apa yang saya butuhkan. Catatan ini akan berguna untuk memberikan ruang pada saat mengorganisir kabinet dapur nantinya.

2. CLEANING
Salah satu cara tercepat untuk membersihkan dapur adalah ketika proses decluttering, saat mengeluarkan isi-isi kabinet dan laci, saat itu juga dipakai untuk membersihkan kabinet dan ruang dalam laci ataupun lemari dan rak. Termasuk kabinet di bawah sink. Pembersihan ini tujuannya untuk menghilangkan debu dan kotoran yang selama ini nggak terlihat. Alternatif penggunaan cairan pembersih alami bisa dicek di artikel Homekeeping: DIY Natural Cleaner yang berkolaborasi dengan Organic Supply untuk bahan-bahan yang terkandung di dalamnya.

Hal yang biasanya selalu saya ingat setelah selesai proses bebersih ini adalah membersihkan countertops atau top table dapur dari benda apapun. Jadi, sebisa mungkin semua barang yang biasa diletakkan di atas meja dapur dimasukkan ke dalam kabinet atau rak lainnya. Gunanya agar memiliki tempat yang cukup untuk mempersiapkan makanan, lalu belajar mengurangi kebiasaan untuk “mudah” menyimpan barang di atas meja dan terbiasa untuk mengembalikan ke tempatnya (yang artinya semua barang di atas meja ini harus punya tempat).

3. ORGANIZING DISHES
Design cooking zone: Zona ini akan sangat membantu untuk peletakan barang. Benda-benda yang mendukung kegiatan memasak seperti piring saji, bumbu dan alat masak disimpan dekat kompor. Semetara lap, alat bersih-bersih dan alat persiapan tersimpan lebih dekat dengan sink. Biasanya barang-barang yang lebih sering kita pakai akan diletakkan di tempat yang lebih mudah untuk diraih. Urutan zona yang memudahkan saya dalam beraktivitas tergambarkan oleh ilustrasi Puty Puar di bawah ini, lengkap dengan fungsi penyimpanan pada setiap zona.

Setelah berbelanja, bahan-bahan masakan saya simpan di dalam kulkas. Ketika ingin mulai persiapan sebelum memasak, bahan-bahan tersebut saya cuci di area sink yang berdekatan dengan area penyimpanan bahan. Setelah dicuci, bahan-bahan tersebut saya potong pada area food preparation dan kemudian dimasak pada kompor di area sebelahnya. Maka dari itu, menurut saya sangat penting untuk memperhatikan pembagian zona ini sebelum mendesain area dapurmu.

Group similar object: Ini bisa dipisahkan sesuai dengan objek atau fungsinya. Misalnya, alat-alat elektronik seperti blender, mixer atau oven yang terpisah dengan peralatan makan seperti kumpulan sendok, garpu dan pisau. Untuk masing-masing kategorinya disimpan dalam satu kabinet tertentu. Atau contoh lain, apapun yang berhubungan dengan kegiatan baking disimpan di tempat yang berbeda.

Finding right box/container: Yang saya maksud ini bukan lunch box atau wadah penyimpanan untuk foodprep. Tapi wadah yang berperan sebagai rumah dari benda-benda yang seragam. Misalnya kotak untuk menyimpan peralatan makan atau bumbu-bumbuan. Contoh lain yang dapat dilihat terdapat dalam artikel Lovely Nest Bajalaras + Ikhsan.

Keep it open: Untuk yang lebih menyukai penyimpanan tertutup mungkin poin ini bisa diabaikan. Tapi untuk saya yang punya dapur kecil dan menyukai penyimpanan terbuka, hal ini jadi semacam trigger untuk rapi dan memudahkan untuk pencarian barang. Oh ya, karena hidup ini adil, kekurangannya tentu ada. Biasanya penyimpanan terbuka lebih mudah berdebu. Konsep penyimpanan seperti ini kami temui di dapur Hanna dan juga apartemen Nana untuk memudahkannya mencari benda-benda yang diperlukan. Bisa kamu lihat di dalam artikel Memaksimalkan Dapur Kecil.

Floating shelves: Sebisa mungin semua alat memang dimasukkan ke dalam kabinet. Tapi jika ada yang berlebih, rak ambalan yang bersifat terbuka ini bisa jadi alternatif untuk tempat penyimpanan. Bisa juga dipakai sebagai elemen untuk mempercantik dapur.

Spice: Salah satu yang biasa bikin dapur berantakan menurut pengalaman saya adalah penyimpanan bumbu. Nah, untuk mengantisipasinya saya suka menyimpannya di dalam kotak. Biasanya saya bagi menjadi dua kotak penyimpanan. Satu kotak untuk bumbu yang hanya dipakai di dapur seperti bubuk kari, kayu manis, kaldu dan lain-lain. Sementara satu kotak lagi untuk yang mobile atau terkadang dibutuhkan juga di meja makan, seperti garam, merica, gula dan sebagainya.

Make food accessible: Teorinya sama seperti penyimpanan bumbu tadi. Makanan dan cemilan yang memang dikonsumsi harian biasanya saya susun di dalam tempat yang mudah diakses dalam jumlah yang tidak berlebihan. Hal ini juga diterapkan Yanuar dalam area makan yang bersebelahan dengan dapur jadi kumpulan bumbu tersebut bisa digunakan secara bergantian.

Dividers: Penyimpanan di laci bisa menjadi sangat optimal dengan adanya penyekat. Dan biasanya satu laci mewakilkan satu susunan barang. Misalnya, alat makan saja atau alat pembersih, lap dan kebutuhan tekstil.

4. KEEP IT CLEAN AND ORGANIZE
Nah, yang terakhir ini sepertinya sudah biasa ya… Ujung-ujungnya setelah bersih dan rapi, yang cukup sulit adalah mempertahankan keduanya agar tetap konsisten kondisinya. Cara yang berhasil saya terapkan, bisa dengan selalu membersihkan secara berkala atau juga dengan disiplin mengembalikan segala sesuatu ke tempatnya. Berusaha untuk tidak sembarangan meletakkan di tempat berbeda.

Tapi pada akhirnya, menurut saya yang paling penting tentu kenyamanan anggota keluarga terhadap dapurnya masing-masing. Sementara soal tingkat kerapihan, banyaknya atau kelengkapan barang, warna, kebersihan dan lainnya bisa jadi berbeda satu sama lain. Tetap semangat ya, hasil akhirnya pasti akan senilai usaha kamu dalam merapikannya!

 

*Ilustrasi oleh Puty Puar. 28 tahun. Mantan penjaga sumur pengeboran, ilustrator, dan penulis lepas yang juga merintis label ‘Fat Bunny’. Ibu satu anak. Penyuka makanan dengan saos kacang. Blognya bisa diakses di byputy.com.


Si ibu rapi yang selalu punya cara untuk menjaga rumahnya tetap terorganisir. Atit berbagi ide dan inspirasi penataan di rubrik Organizing Series, juga resep simpel dan tips Homekeeping.

RELATED POST

So, what do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER