READING

LIBURAN JEPANG 2: MEMILIH PENGINAPAN

LIBURAN JEPANG 2: MEMILIH PENGINAPAN

Kembali lagi dalam bahasan Liburan Jepang. Kalau minggu lalu saya berbagi tips tentang persiapan. Apa saja yang harus disiapkan sebelum berangkat. Sekarang saya mau bahas tentang penginapan.

Kalau menginap di Indonesia, saya hingga saat ini masih lebih sering di hotel. Tapi kalau di luar negeri, lebih sering memilih Airbnb. Kenapa? Biasanya, selain lebih ekonomis, bisa dapat pengalaman yang lebih berbeda aja dibanding nginap di hotel yang bentuk kamarnya gitu-gitu aja. Belum lagi fasilitas kayak mesin cuci, dapur dengan kompor dan microwave yang memungkinkan untuk masak-masak. Jadi, kalau bener-bener niat hemat kan dana liburannya juga masih bisa ditekan sedikit karena bisa sarapan atau makan malam di penginapan. Selain itu, alasan khusus kenapa pas liburan ini milih Airbnb atau rumah sewa daripada hotel. Karena hotel di Jepang kok rata-rata ukuran kamarnya mungil banget. Harganya ya nggak murah juga kalau dibanding Airbnb yang jauh lebih lega.

Jujur, saya mulai survey dan memilih Airbnb di Tokyo dan Kyoto ini lumayan mepet. Sekitar 1,5 bulan sebelum tanggal berangkat. Buat saya ini lumayan mepet kalau niatnya pengen nginep di Airbnb yang ok. Agak beda ini misalnya yah yang fasilitasnya lengkap, interiornya kami suka dan lokasinya cukup strategis. Biasanya kalau udah mepet tuh pilihannya terbatas.

Jadi, sebelum ngebahas tentang pengalaman memilih Airbnb ini saya mau bagi dulu kalau rute kami di liburan kali ini adalah Tokyo-Kyoto-Tokyo. Jadi saya bertugas memilih tiga penginapan.

Biasanya dalam memilih Airbnb, saat mencari saya langsung memasukkan tanggal menginap, jumlah tamu yang menginap dan lokasi. Untuk lokasi, kalau bener-bener buta dengan kotanya, bisa dimulai dengan mengecek itinerary dulu. Mau ke mana aja sih selama di sana. Lalu buka Google Maps dan bintangin lokasi-lokasi yang mau didatangi. Nanti biasanya akan cukup terlihat daerah mana yang cukup dengan tujuan. Kalau masih susah juga, ya memang perlu sedikit niat untuk cek review di beberapa blog. Biasanya sih saya sekalian googling dengan kata kunci yang spesifik kayak “Tokyo itinerary for family with toddler”. Nah, dari pencarian ini saya dapat kesimpulan kalau kawasan Shibuya atau Harajuku cukup family friendly. Asakusa juga tapi lokasinya memang nggak di pusat Tokyo tapi katanya lingkungannya menyenangkan. Kami memilih Shibuya karena mengingat ini baru pertama kali ke Tokyo, jadi nggak apa-apa deh pilih lokasi yang lumayan standar dulu.

Lalu saya juga memilih opsi jenis perjalanan dan memilih Trip Type “For Families”. Jadi, rumah-rumah yang direkomendasikan juga yang sudah memiliki fasilitas yang biasanya dibutuhkan keluarga seperti dapur, TV. dll. Lalu kalau sudah mendapat beberapa pilihan penginapan. Saya cek deh satu per satu. Biasanya di sinilah faktor desain rumah sangat berpengaruh. Kalau saya dan suami biasanya suka yang desainnya modern dan terang. Nah, kalau sudah dipilih beberapa, saya mulai pelajari satu per satu. Saya usahakan buat pilih yang Host-nya sudah dapat predikat Super Host, karena biasanya sih pelayanannya memang OK. Lalu mulai deh baca deskripsi dan review para tamu yang sudah menginap di sana satu per satu.

Oya, selain mencari tahu tentang faktor standar seperti kebersihan, kelengkapan dan kemudahakan komunikasi dengan host. Akses penginapan juga penting buat kami. Jadi, kalau di deskripsi tidak menjelaskan secara jelas aksesnya bagaimana. Saya coba mencari tahu dulu. Akses ini nggak hanya jarak yang walkable dari stasiun terdekat, lho. Tapi juga kalau misalnya Airbnb-nya itu berupa apartemen. Harus dipastikan lantai berapa dan ada lift atau nggak. Soalnya bukan sekali dua kali saya baca curhatan tamu yang harus menggotong koper dari lantai dasar ke lantai sekian karena ternyata nggak ada fasilitas lift. Nggak kebayang deh bawa dua koper besar naik-turun tangga. Kecuali kalau liburannya sendiri atau konsepnya backpacing, jangan lupa untuk teliti mencari tahu tentang akses ini, ya.

Kalau kamu pengen tau gimana cara memilih Airbnb, bisa mengulik lebih lanuut di artikel Tips: Cermat Memilih Airbnb, ya!

Laluuu, dapet penginapan yang kayak gimana aja? Penginapan pertama di Tokyo adalah Airbnb yang berlokasi di dekat Shinjuku. Sayangnya, karena ini penginapan pertama jadi kami pas sampai udah capek banget trus nggak sempat mendokumentasikan. Tapi kami lumayan happy dengan airbnb ini, karena selain aksesnya cukup dekat dengan stasiun. Banyak mini market dan resto kecil di sekitar. Apartemennya juga rapi, bersih, lengkap dengan fasilitas dapur dan mesin cuci. Oya, meski apartemen ini tergolong kecil, tapi kamar mandinya bersih sekali lengkap dengan air hangat. Oya, ukuran tempat tidurnya sih nggak terlalu besar. Biasanya sih ukuran tempat tidur di Jepang itu memang imut-imut. Jadi meski hanya bertiga, tapi kami tetap butuh dua tempat tidur.

Sementara untuk Airbnb di Kyoto ini menurut saya spesial. Awalnya saya tahu Designers Home in Centre of Kyoto ini dari Instagram seorang blogger yang maaf kok saya malah lupa namanya. Nah, yang bikin spesial adalah luas dan desain rumahnya. Buat ukuran Jepang, rumah sebesar 70m2 terhitung luas dan super lega. Terdiri dari satu bangunan utama dan satu kamar/paviliun. Bahkan cukup banget lah buat 6 orang. Desainnya perpaduan antara Jepang tradisional dan gaya modern. Lengkapnya bisa ditonton di YouTube,ya. Ada video versi Kira juga.

 

Nah, buat penginapan ketiga di Tokyo juga spesial, karena saya dapat rekomendasi rumah ini dari Alfred, teman dari Kokken. Apa itu Kokken? Langsung mampir saja ya ke website Kokken ini. Pokoknya kreasi kakak-kakak Kokken ini manis dan simpel. Pasti suka!

Oya, kembali lagi ke penginapan. Nama penginapannya Uehara House. Rumah dua tingkat ini terbagi dalam dua unit. Unit pertama terletak di lantai dasar dan bisa disewakan. Sementara unit kedua yang berada di lantai dua adalah tempat tinggal host-nya. Desainnya perpaduan antara modern dan tradisional khas Jepang, tapi tetap terasa sangat berbeda dengan Airbnb di Kyoto. Meski areanya tidak luas, tapi tetap terasa lega karena desainnya benar-benar memaksimalkan lahan yang ada. Fasilitasnya juga lengkap. Ada dapur, mesin cuci, setrika, penghangat, dan kebutuhan dasar lainnya. Lokasinya juga menyenangkan sekali. Andai kami menginap lebih lama di Uehara House, pasti kami akan menyempatkan diri buat jalan santai di sekitar rumah. Oya, supaya lebih terbayang. Kami juga membuatkan satu video YouTube pendek tentang Uehera House ini. Reservasinya melalui website Uehara House-nya, ya. Di sana sudah ada formulir yang perlu kamu isi dan setelah itu tinggal menunggu e-mail respon dari mereka.

Duh, kalau suatu saat dapat kesempatan jalan-jalan ke Jepang lagi. Pengen banget bisa menginap di Airbnb yang berbeda dengan desain yang juga menarik. Nginep di rumah seperti ini tuh nggak hanya memberi pengalaman yang berbeda, tapi juga inspirasi buat saya dan Baba. Terutama buat arsitektur/interior rumah atau kantor. Semoga bisa berjodoh lagi dengan Jepang. Amin.


Suka menulis dan hobi menggambar rumah serta denahnya sejak kecil. Nike membuat Living Loving untuk mengembalikan dan mengembangkan kecintaannya akan menulis dan minatnya akan rumah, dekorasi dan desain. Mulai membuat website dan blog sendiri sejak 2000, mengkoleksi dan berbagi cerita selalu jadi bagian penting dalam hidupnya.

RELATED POST

  1. Penginapan di Jepang itu memang cakep2 ya :) Thankyou LL untuk rekomendasinya

    • Hai Adissa..iya penginapannya selain bagus juga ngasih banyak ide buat memaksimalkan tempat dan ide-ide praktis lainnya. Terima kasih sudah membaca, yaa

  2. rissa

    27 February

    Halo mba..
    harga sewa uehara house berapa ya?

  3. Laura

    26 March

    Kak, mau tanya untuk airbnb kan ilegal ya di jepang? Yg kk nginep ini gimana? Apa ada ijin terdfatar?

    • Hai Laura. Saat ini airbnb di Jepang harus disertai no. license, dan semua yang menginap harus menyertakan scanned paspor ke airbnb host. Artikel ini merupakan artikel tahun lalu saat belum ada peraturan tersebut, jadi memang tidak ada license no. Tapi saat menginap di airbnb bulan lalu (Maret 2019), penginapan kami sudah mengikuti peraturan yang saya sebutkan tadi.
      Namun, kalau Laura merasa ragu untuk menggunakan airbnb. Bisa menginap di hotel/hostel saja.:)

  4. melia

    30 March

    Halo Mbak Nike,
    Saya cari di airbnb kok ga ada ya yg designers home….
    Bisa minta linknya? Terima kasih

    • Hai hai, maaf baru balas, ya. Iya, saya sejak awal tahun ini juga sempat mencari designer’s home ini di airbnb tapi entah kenapa nggak ketemu. Mungkin jangan-jangan sudah tidak terdaftar lagi di sana. :(

  5. Anna

    26 September

    Hai kak, mau tanya. Airbnb Jepang hitungannya per orang atau bisa per kamar ya? Misalnya entire house yg isinya sampai 6 orang itu apakah harus memesan sejumlah orang yg menempati? Karena harganya kan pasti berubah ya. Hehe

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: