READING

CERITA NIKE: SEHAT SELALU BUTUH REHAT

CERITA NIKE: SEHAT SELALU BUTUH REHAT

This going to be a long one.Well, to be honest..it took a long time for me to finally write and publish this post. Saya sudah merencanakan tulisan ini sejak akhir tahun lalu. Sekaligus tulisan evaluasi dan resolusi..begitu pikir saya. Tapi ternyata saya masih butuh waktu untuk menimbang dan merasa nyaman untuk membahasnya. Ini bukan tentang Living Loving, tapi tentang saya pribadi. Yah, meski pada akhirnya tentu berhubungan dengan Living Loving.

Sekitar dua tahun lalu, saya sempat mengalami menstruasi yang nggak nyaman. Biasanya fase datang bulan ini saya lalui tanpa masalah. Tapi waktu itu saya kram di beberapa hari pertama. Karena saya hampir nggak pernah ada problem saat menstruasi, saya langsung cek ke dokter dan dokter bilang kemungkinan besar karena hormon sedang nggak stabil. Masalah yang sebenarnya sih cukup sering dialami perempuan. Apalagi urusan hormon ini kan faktornya banyak banget, baik fisik (kecapekan, tidur tidak teratur, dan sebagainya) maupun psikis seperti stres. Saat itu saya memang sudah 8 bulan lebih aktif olah raga semacam cross fit seminggu dua kali, dan saat menstruasi saya juga tetap berlatih tanpa meringankan porsinya.

Kalau soal stres, ya bisa jadi juga saya sedang banyak hal yang saya pikirkan. Saya kembali ke rumah dan menjalani hari seperti biasa. Hanya akhirnya olah raga rutin tersebut saya hentikan dulu daripada semakin menjadi. Namun setelah enam bulan, masalah datang bulan ini nggak kunjung membaik. Malah semakin terasa karena volumenya semakin banyak dan akhirnya masa menstruasi saya pun semaking panjang. Akhirnya saya cek lagi ke dokter, dan ditemukan miom di dinding rahim saya sebesar sekitar 3cm. Selain itu terjadi penebalan pada dinding rahim juga karena hormon yang nggak stabil ini. Dinding rahim saya tiga kali lipat lebih tebal dari umumnya dan itu membuat volume haid jadi tiga kali lipat lebih banyak dari normal. Buat teman-teman perempuan pasti bisa paham ya rasanya gimana kalau haid banyak..selain nggak nyaman, kita juga jadi lemas. Mengingat ukuran miom-nya masih termasuk kecil, dokter menyarankan kami berusaha punya anak dengan cara alami. Karena di banyak kasus, miom bisa mengecil bahkan hilang ketika perempuan melahirkan dan menyusui.

Ya udah, akhirnya kami meneruskan hari-hari kami lagi sambil berusaha dan tetap kontrol ke dokter 3-4 bulan sekali. Namun sepanjang 2017 bisa dibilang urusan datang bulan saya nggak kunjung kelar. Justru semakin banyak setiap bulannya. Hingga akhirnya sekitar bulan Oktober saya kontrol lagi dokter kandungan lain untuk mendapat second opinion, dan lumayan kaget mendengar dari dokter kalau ukuran miom saya 6cm dan solusinya adalah diangkat dengan operasi. Buat saya yang nggak pernah nginap di rumah sakit kecuali saat bersalin, kabar ini lumayan bikin shocked. Saya masih inget banget saya curhat sama temen baik saya, Kitty, di Senayan City. Acara curhat sore itu sampai berakhir kami berdua nangis. Entah deh itu Kitty kenapa ikutan nangis. Hahaha. Tapi yang jelas saat itu, saya yang saat itu sedang merencanakan banyak hal buat Living Loving..seakan-akan mendadak “disekap” kotak nggak terlihat dan disuruh berhenti sementara.

Akhirnya saya mutusin untuk memasukkan sebagian rencana yang sudah ada di kepala, bahkan sudah dibahas dengan tim Living Loving, ke dalam “arsip” dan memilih untuk belajar menjalankan 2018 dengan penuh perhatian. Jujur, paruh pertama 2018 saya sering merasa sedih karena rasanya kok (fisik) saya lemah banget. Setiap datang bulan saya harus istirahat total di rumah paling nggak seminggu, sementara saya tau Miranti dan teman-teman di studio Living Loving bekerja.

Begitu banyak kesempatan yang saya lewatkan karena saya nggak mungkin keluar rumah dengan kondisi tersebut. Saya juga memutuskan nggak memberikan alasan yang sesungguhnya ke pihak yang mengajak kerjasama atau sekadar mengundang untuk bertemu, karena jujur…saya enggan untuk menjelaskan panjang lebar. Apalagi urusan menstruasi ini kan subjektif untuk masing-masing orang. Ada yang bisa memahami, tapi mungkin saja ada yang menganggap itu bukan halangan. Namun keduanya biasanya perlu diberikan penjelasan lebih lanjut. Duh, daripada saya harus nyeritain panjang lebar, lebih baik saya cari alasan yang gampang diterima saja seperti, “Maaf, kebetulan sudah ada janji dari tanggal sekian sampai sekian.”. Kebayang nggak, setiap ada undangan atau merencanakan event bahkan perjalanan ke luar kota, hal pertama yang saya lakukan bukan liat Google Calendar tapi aplikasi kalender mestruasi. Untungnya jadwal datang bulannya cukup teratur, jadi saya masih bisa memprediksi kapan saya harus di rumah saja. TAPI coba bayangin deh waktu itu saya meratapi kenapa 1/3 dari sebulan saya nggak bisa diisi dengan sesuatu yang produktif.

Bekerja dari rumah? Awalnya sih bisa, tapi lama-lama saya kepayahan. Fisik benar-benar nggak bisa diadu. Jalan sekian meter saja selalu kunang-kunang. Ganti pembalut 1,2 jam sekali. Kepala berat sekali. Saya coba bekerja dengan membawa laptop ke kasur, dan baru sebentar saja sudah pusing. Lemas nggak terkira deh saya sampai bersyukur rumah kami cuma satu lantai jadi ke mana-mana dekat.

Hingga Agustus 2018 itu hari-hari saya jalani dengan penuh usaha. Usaha buat bisa bertenaga, soalnya dikit-dikit lemas. Apalagi sekitar bulan April-Agustus, nggak hanya pada saat haid aja saya ngerasa gampang kecapekan..di hari biasa pun cepat ngos-ngosan. Naik tangga ngos-ngosan, jalan dikit detak jantung langsung nggak beraturan, mau olah raga aja nggak sanggup karena bener-bener lemes.

Di bulan Agustus pun saya mutusin medical check up. Saat medical check up pun baru ketauan kalau level HB saya rendah, sekitar 4.5. Sementara HB normal sekitar 11-13. Saya langsung disarankan transfusi darah oleh rumah sakit. Tapi saya masih inget banget saya masih nawar ke dokter jadwal transfusinya diundur sehari karena saya masih harus ngajar di workshop yang diadakan klien. Hahaha. Jadi, besok siangnya saya workshop dulu di daerah Jakarta Barat lalu pulang dan menginap di rumah sakit dua malam untuk transfusi sekitar 4 kantong atau 1 liter darah.

Kenapa level HB saya bisa sampai 4.5? Ya , karena pendarahan yang begitu banyaknya setiap menstruasi. Hanya karena pendarahannya nggak mendadak, jadi pelan-pelan tubuh adaptasi meski ya jadinya ngos-ngosan. Kalau orang yang level HB-nya normal trus pendarahan dan dalam waktu singkat langsung ke poin 4.5 sih bisa langsung pingsan. Transfusi ini saya perlukan karena kalau nggak segera dilakukan, jantung akan terus bekerja keras. Bisa-bisa gagal jantung. Alhamdulillah setelah transfusi saya merasa jauh lebih segar dan bisa aktivitas seperti normal lagi. Rasanya beda banget. Nafsu makan langsung membaik, jantung nggak sering berdebar lagi, dan saya nggak gampang ngos-ngosan. I felt better!…TAPI setiap datang bulan ya tetap banyak sekali sehingga tetap nggak bisa keluar rumah, meski sudah nggak lemas sekali seperti sebelumnya. Itu kenapa akhirnya, setelah konsultasi dengan dokter lagi dan memang ukuran miom-nya juga sudah semakin besar, saya memutuskan melakukan operasi pengangkatan miom di bulan November.

Rasanya tuh panjang sekali perjalanan menuju ke tindakan operasi ini. Tapi Alhamdulillah menjelang tindakan tuh saya merasa semakin mengenal badan dan diri sendiri. Saya nggak lagi-lagi meratapi diri merasa nggak berguna karena sulit berkontribusi dengan kondisi fisik yang letoy. Beneran deh, beberapa kali saya sampai mikir gimana kalau memang saya nggak usah nerusin Living Loving lagi?…Terdengar berlebihan, tapi memang saya pernah berpikir sampai ke titik tersebut. Tapi selalu ada suara dari dalam diri yang selalu ngingetin kalau saya mencintai apa yang saya lakukan ini. Even at my vulnerable moments, I always knew that Living Loving is one of the parts in my life that lighten me up.

Saya suka menulis dari umur 9 tahun. Saya memang bercita-cita kerja di media sejak dulu. Buat saya, ini sesuatu yang memang saya cintai. And I have to say I am more thank lucky to have a partner, a team, family, friends and people that support this baby. Saya juga bersyukur banget sekitar 2-3 bulan menuju tindakan operasi, saya mengikuti workshop tentang Keseimbangan Hormon oleh Mba Ani Purwandini yang diadakan di Feelgood Space, Tangerang Selatan. Bayangkan, ketika saya sepanjang tahun bertanya-tanya tentang hormon, tiba-tiba ada workshop-nya dan berlokasi dekat dari rumah. Di workshop itu saya jadi banyak dapat pemahaman tentang hormon. Dari penjelasan Mba Ani, saya baru mengetahui kalau masa menstruasi itu memang fase hiatus-nya perempuan. Sebaiknya perempuan beristirahat saat datang bulan, supaya energi tetap terjaga stabil. Ini hanya secuil dari informasi yang Mba Ani jelaskan. Masih banyak lagi pencerahan yang saya dapatkan, dan itu ngebantu saya melewati masa datang bulan. Kalau sebelumnya saya udah tegang duluan kalau menjelang haid, sejak itu saya jauh lebih tenang dan menikmati masa rehat di rumah. Ternyata saya selama ini membutuhkannya..

Sepanjang Desember 2018 saya memulihkan diri sambil menimbang, memikirkan dan merasa lagi apa yang ingin saya jalankan di tahun berikut. Some days were high, some days were low. I knew that all I needed was let these days be. Saya juga benar-benar menikmati waktu istirahat itu dengan melakukan apa yang saya suka, weaving dan mencoba keterampilan baru yang selama ini saya tunda, needle punch. Selain itu, saya juga menghabiskan waktu dengan keluarga. I felt recharged.

Menjelang masa pemulihan selesai. Nggak terhitung deh saya bolak-balik ngobrol dengan Mamir, partner yang super sabar dan nggak pernah kehilangan semangat. Saya juga tentunya banyak ngobrol dengan suami, yang memang selama ini nggak hanya jadi teman diskusi dan bersandar, tapi juga mendukung apa yang saya lakukan lewat caranya. Di awal 2019 ini saya menghabiskan berjam-jam bertukar pikiran dengan Mamir. Melempar mimpi, menyortir yang perlu dan tidak perlu, memilih yang suka dan tidak cocok, merencanakan yang pendek dan panjang. Pelan-pelan kami pikirkan, diskusikan dan selalu dicoba untuk “dirasa-rasa”. Proses yang sebelumnya selalu terasa membingungkan dan melelahkan, sekarang jadi..tetap ada capek dan mumetnya sih apalagi kalau sudha ngomongin angka, tapi rasanya jadi lebih menantang sekaligus menyenangkan. Hahaha.

Saya nggak tau tahun ini saya akan sukses atau gagal. Bukan itu juga indikator yang jadi acuan saya. Whatever that is, I want to do it mindfully. I’m learning. Because now I know, a dream is actually something that we do..everyday.  Now I know that health is a treasure. 

Forgive yourself, thank yourself, take care of yourself. Listen to your body, feel your body, let your body rest when you need one, and move so you won’t grow weary. Love yourself. Love yourself more and more..The world needs that. 

Take time to breathe. You don’t need to clear your mind or understand how to meditate. We just need to breathe, for a minute. Dulu saya berpikir kalau pikiran atau emosi dulu yang harus diberesin, baru kita bisa “napas” dengan tenang. Tapi kadang kalau situasi sudah terlalu ruwet dan kita bingung untuk merespon dan memutuskan apa yang harus kita lakukan, kita bisa mulai dengan napas dulu. Napas semenit, dua menit, tiga menit. Sesuai dengan kebutuhan kita..Saya juga sedang belajar.

Terima kasih sudah membaca hingga baris terakhir. Terima kasih sudah mengikuti Living Loving selama ini. Please don’t hesitate to post your thoughts here. :) In the mean time, we are cooking a special project and it means so much to our hearts. We will announce it soon. Xx ps: you can check out my monthly “hiatus” journal on my ’embracing moon’ story on my Instagram where I posted my thoughts, or words/quotes/things that I read or see during my rest-days.Hearts, .n.


Suka menulis dan hobi menggambar rumah serta denahnya sejak kecil. Nike membuat Living Loving untuk mengembalikan dan mengembangkan kecintaannya akan menulis dan minatnya akan rumah, dekorasi dan desain. Mulai membuat website dan blog sendiri sejak 2000, mengkoleksi dan berbagi cerita selalu jadi bagian penting dalam hidupnya.

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

INSTAGRAM
KNOW US BETTER