Belajar Empati Dimulai dari Rumah

Setelah menjalankan hidup sebagai orang dewasa sekian puluh tahun ini, I’m going to be 43 years old this year, aku makin sadar kalau satu sikap ini, empati, ternyata nggak hanya penting untuk diri kita. Dulu, pas berkenalan dengan apa itu empati dan gimana mempraktekkannya di hubungan kita, aku jadi mulai tersadar banyak sekali caraku merespon akan situasi itu sebenarnya hanya sekadar simpati.

We tend to give sympathy because we think it’s the right thing to do, but we actually just choose to not get in touch with the rel thing. We think we’ve done enough, but not. And sometimes, our action of sympathy lead us to cut the opportunity for someone else that needs help. And the assumption that empathy is probably harder than sympathy makes it even impossible to do.

Lalu, apa sih empati?

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang sedang dialami orang lain. No judgement, not jumping into conclusion. Empati berbeda dengan simpati. Simpati baru sampai sebatas kita merasa untuk orang lain. Sedangkan, empati adalah hadir bersama orang lain.

Jadi pemimpin juga sangat perlu empati. Terbayang nggak pemimpin yang empatinya ga diasah? Sebenarnya contohnya banyak sih di sekitar kita, dan itu akhirnya berpengaruh dengan kehidupan kita. Leaders who choose to stay in their own shell. Kenapa pemimpin yang mereka yang ada di posisi atas perlu punya empati? Karena kebijakan, keputusan dan nilai-nilai dari sebuah organisasi itu kalau nggak mikirin faktor empati sih ternyata efeknya akan sangat terlihat pada situasi dan nasib orang-orang yang dipimpinnya. Bahkan dalam organisasi sebesar negara.

Lalu, bagaimana cara melatih empati dimulai dari rumah kita? Beberapa cara di sini bisa kamu lakukan. Buatku sendiri, aksi ini jauh lebih mudah dijelaskan daripada dipraktekkan tapi untuk jangka panjang ini akan jadi bekal yang baik untuk semua anggota keluarga di rumah.

Mendengarkan Sampai Tuntas

Kita mungkin selama ini terbiasa mendengar untuk menjawab, bukan untuk memahami. Beri ruang bagi orang terdekat untuk bercerita tanpa interupsi, apalagi memberikan nasihat tanpa diminta. Kadang yang orang lain butuhkan itu bukan solusi, tetapi seseorang yang benar-benar mendengarkan.

Berlatih Melihat dari Sudut Pandang Orang Lain

Sebelum bereaksi, coba tanyakan ke diri sendiri dulu, “Kalau aku berada di posisi mereka, dengan pengalaman dan tantangan yang mereka miliki, apa yang kira-kira aku rasakan?”

Empati tumbuh saat kita menyadari bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu kita tahu, dan sebenarnya selalu ada ruang buat kita berlatih. Meski memang latar belakang, situasi dan cara hidup kita berbeda. Tapi kita kadang perlu mengingatkan diri sendiri untuk belajar nggak melulu melihat sesuatu dari sudut pandang kita. Kalau belum bisa, paling nggak berlatih untuk menghomati orang lain dan berhenti “menarik” mereka dalam situasi kita.

Kurangi Asumsi, Latih Rasa Ingin Tahu

Daripada langsung menyimpulkan kalau orang lain malas, tidak mau berusaha atau tidak peduli. Asumsi instan yang akhirnya membuat kita jadi buru-buru menghakimi ini perlu pelan-pelan dilatih dengan bertanya. Ajak diri untuk bertanya,”Apa yang membuat orang lain melakukan atau merasa hal ini?”. Rasa ingin tahu memberi kita ruang untuk memahami lebih jauh dan dalam, dan mudah-mudahan juga menjauhkan diri kita buat menghakimi orang lain.

Perhatikan Hal-Hal Kecil

Empati sering hadir di momen-momen sederhana, dan kita bisa banget mulai dari sana. Menawarkan bantuan tanpa diminta. Menyediakan waktu untuk menemani. Kalau pasangan atau anak curhat, siapkan diri mendengar tanpa distraksi dan hanya berikan masukan saat diminta. Sederhana, namun membuat orang merasa dilihat dan dihargai.

 

Mulai dari yang terdekat

Kita sering lebih sabar kepada orang lain daripada mereka yang paling dekat di keseharian kita. Padahal rumah adalah tempat pertama kita belajar memahami perbedaan karakter, kebutuhan, dan emosi. Empati yang dibangun di rumah akan dibawa seluruh anggota keluarga ke luar rumah.

⸻

Hal Baik Bisa Dimulai dari Rumah

 

Kebaikan-kebaikan tumbuh dari obrolan tanpa menghakimi, dari kesediaan kita untuk  dengan mindful, juga usaha kita untuk terus belajar memahami orang-orang di sekitar kita. Memang, kita nggak akan 100% bisa tahu dan paham apa yang dialami orang lain. Tapi tujuannya bukan itu. Empati yang dilatih hari ini di rumah, akan terbawa ke cara kita berteman, bekerja, bermasyarakat, bahkan memimpin di masa sekarang dan masa depan. It will change how we see things, how we see people. 

Karena perubahan besar bisa diawali dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari, mulai dari rumah.

Suka menulis dan hobi menggambar rumah serta denahnya sejak kecil. Nike membuat Living Loving untuk mengembalikan dan mengembangkan kecintaannya akan menulis dan minatnya akan rumah, dekorasi dan desain. Mulai membuat website dan blog sendiri sejak 2000, mengkoleksi dan berbagi cerita selalu jadi bagian penting dalam hidupnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.