Madrim dan Teguh memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah 7 tahun tinggal di Singapura untuk bekerja. Mereka menjalani proses pindahan dengan membawa diri, barang-barang koleksi, dan cerita panjang menetap di luar negeri, bersama Bagel, anjing English Bulldog peliharaan mereka.

Rumah ini sudah lama dimiliki Teguh, namun mereka tidak pernah membayangkan suatu hari akan menempati rumah ini. Keputusan ini akhirnya jadi awal baru untuk rumah yang lahir setelah direnovasi sesuai dengan karakter keduanya.

 

Merenovasi Rumah Cluster Dua Lantai

Bagi Teguh, pindah kembali ke kampung halaman berarti kita harus me-reset diri untuk mulai dari nol. Itu nggak apa-apa, dan itu bagian dari proses.

Menjalani proses tersebut sudah dimulai Madrim dan Teguh sejak mereka masih di Singapura. Ya! Tahap koordinasi untuk proyek renovasi rumah ini sudah mereka lakukan dengan desainer interior pilihan mereka, Studio Marka bahkan cukup jauh sebelum kepindahan keduanya. Obrolan dan pembahasan terkait renovasi dilakukan total secara daring, sampai akhirnya Teguh yang pindah lebih dulu sehingga bisa memantau langsung.

Cerita unik lainnya dari proyek renovasi rumah ini adalah bagaimana Madrim dan Teguh sebagai klien begitu memberikan kebebasan bagi Studio Marka untuk mengeksplorasi dari sisi desain dan spasial. Madrim dan Teguh hanya memberikan foto-foto liburan mereka di Marrakech, Maroko, foto-foto barang koleksi mereka di apartemen, juga suasana lingkungan di Tiong Bahru. Berbekal pengalaman personal tersebut, Studio Marka menerjemahkan sosok pemiliknya ke dalam rumah ini.

 

Mengabadikan Pengalaman di Rumah Baru

Tangga spiral di rumah ini dibuat karena Madrim dan Teguh terinspirasi dari rutinitas mereka selama tinggal di Tiong Bahru. Bangunan-bangunan walk-up flats (apartemen tanpa lift) di sana identik dengan tangga spiral.

Kemudian, ada cara unik yang dilakukan Madrim dan Teguh dalam memilih furnitur untuk rumah ini. Keduanya memulai dari koleksi artwork dan lukisan yang sudah mereka adopt sejak bertahun-tahun lalu untuk jadi acuan pemilihan furnitur yang sesuai secara warna. Salah satunya lukisan pertama yang Madrim beli saat usianya 14 tahun.

Area favorit Teguh di rumah: study room. Ada banyak buku koleksi yang sudah lama dimiliki, juga meja dan kursi lama yang digunakan di Singapura yang dibawa ke rumah ini.

 

Mengisi Rumah dengan Personal

Madrim dan Teguh begitu menyukai koleksi artwork dan lukisan yang mereka adopt dari teman-teman dan senimannya. Ada lukisan karya Ardi G di atas sofa di living room dan karya sahabat Madrim dan Teguh, seniman asal Singapura, Eduardo atau Ed yang bersebelahan dengan karya KANOKO takaya dari Bali.

Di master bedroom ada karya Utay (Ruth Marbun).

Di dining area ada karya Abenk Alter yang bersinergi dengan designer lamp karya Verner Panton yang dibawa secara hand-carry oleh Madrim ke Indonesia.

Di powder room ada karya Kendra Ahimsa yang merupakan poster acara pernikahan Madrim dan Teguh sendiri. Yang menarik juga dari powder room, tiles yang digunakan adalah tiles custom dari Palet Company yang diwujudkan oleh sahabat Madrim dan Teguh.

 

Kalau kamu penasaran ingin melihat lebih banyak rumah Madrim dan Teguh ini, bisa ditonton di Lovely Nest: Madrim + Teguh di Youtube Living Loving. Klik tautan di bawah yaa:

From a die-hard fan to a creative force at Living Loving, Caroline thrives in design, crafting visuals and words into engaging, heartfelt content fueled by Lemper Holland Bakery and Es Kopi Susu Little Contrast.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.